5 Langkah Menata Keuangan agar Sejahtera di Tahun 2017

created
10 Jan 17
last post
10 Jan 17
 users 1360 views 1 posts

 Share topic

       

post #1
10 Jan 17
modified 10 Jan 17
halomoney

Menata keuangan pribadi dapat menjadi langkah awal supaya kondisi finansial Anda tahun ini bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kuncinya adalah disiplin dan konsisten menjalankan perencanaan. Tahun 2017 sudah berjalan sepekan. Bagaimana kabar resolusi Anda? Menata keuangan pribadi mungkin menjadi salah satu resolusi favorit banyak orang saat menyambut tahun yang baru.

Maklum, tantangan menyangkut kondisi kantong, nyaris tidak pernah habis. Lihat saja tahun ini. Membuka tahun, beberapa jenis harga dan layanan naik cukup signifikan. Mulai tarif listrik, harga bahan bakar minyak (BBM) sampai tarif pengurusan surat kendaraan bermotor. Tanpa langkah pembenahan keuangan yang terencana, kondisi keuangan tahun 2017 bisa-bisa menurun kualitasnya. Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk membenahi kondisi keuangan supaya tetap sehat dan berkualitas. Berikut 5 langkah menata keuangan pribadi yang bisa langsung Anda terapkan sekarang :

1. Biasakan mencatat keluar masuk uang

Mencatat arus masuk pengeluaran dan pemasukan keuangan hanya membutuhkan waktu sebentar. Bahkan, di zaman digital seperti sekarang, Anda tidak perlu repot lagi mencatat secara manual di kertas. Manfaatkan aplikasi-aplikasi pencatatan keuangan yang banyak tersedia di ponsel pintar. Apa saja yang perlu dicatat? Sesuai namanya, buatlah dua bagian utama yaitu pemasukan dan pengeluaran. Di kolom pemasukan, Anda dapat mencantumkan sumber-sumber penghasilan, mulai dari gaji rutin, bonus, pendapatan sampingan, dan lain-lain. Sedangkan di kolom pengeluaran, perinciannya lebih banyak lagi.

Ada pos biaya rutin seperti anggaran makan, transportasi, listrik, air, tagihan KPR dan kartu kredit, dan lain sebagainya. Pos pengeluaran lain seperti pos biaya sekolah anak, pos pengeluaran pribadi untuk hobi jangan lupa cantumkan juga. Membiasakan diri mencatat uang masuk dan uang keluar dapat membantu Anda lebih waspada dengan kondisi keuangan. Selain itu, mencatat keuangan membantu Anda mengetahui apakah kantong Anda surplus atau defisit. Pos-pos pengeluaran mana saja yang bisa Anda hemat.

2. Bagi pendapatan dengan pola 4-3-3

Setiap Anda mendapatkan penghasilan, biasakan selalu membaginya dalam pos-pos utama. Anda bisa menerapkan prinsip 4-3-3 laiknya permainan sepakbola. Bagaimana prinsip 4-3-3 dalam keuangan pribadi?

Ini adalah pola pembagian penghasilan untuk tiga pos utama yaitu 40% untuk kebutuhan hidup sehari-hari, 30% adalah jatah untuk membayar cicilan utang dan 30% sisanya merupakan besar penghasilan yang harus Anda tabung atau investasikan.Asumsikan pendapatan Anda adalah Rp 15 juta per bulan. Maka, pembagiannya adalah sebagai berikut : Sebesar Rp 6 juta merupakan anggaran Anda untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari biaya makan, biaya transportasi, biaya listrik-air-pulsa, dan lain sebagainya.

Lalu, sebesar 30% atau setara Rp 4,5 juta adalah ruang Anda untuk membayar cicilan. Batas angka 30% untuk beban utang merupakan prinsip penting agar keuangan Anda selalu sehat. Terakhir, 30% untuk dana tabungan atau investasi hari depan. Pilih instrumen keuangan yang paling tepat dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda. Misalnya, reksadana, saham, surat utang atau emas. Dari pos ini pula Anda bisa membangun dana darurat keluarga dalam jumlah yang ideal.

Untuk membantu kedisiplinan Anda dalam mengelola keuangan, pastikan Anda “mengeluarkan” porsi tabungan atau investasi itu di awal menerima penghasilan. Anda bisa berimprovisasi membagi besar pendapatan untuk berbagai keperluan. Yang terpenting, tetap patuhi prinsip keuangan sehat. Misalnya, jatah porsi penghasilan untuk cicilan maksimal sebesar 30%, tidak boleh melebihi angka itu. Sedangkan untuk porsi tabungan atau investasi, angka ideal memang 30%. Namun, bila Anda merasa angka itu terlalu berat untuk dipenuhi, menurunkannya menjadi 20% sudah cukup bagus.

3. Kurangi utang konsumtif

Batas beban cicilan seseorang hanya sebesar 30% dari total pendapatan rutin agar kondisi keuangan selalu sehat. Utang konsumtif antara lain pinjaman kredit tanpa agunan, kartu kredit, kredit kendaraan bermotor. Sedangkan kredit pemilikan rumah atau apartemen dinilai sebagai jenis utang yang bisa berubah menjadi produktif dengan asumsi harga rumah atau apartemen tersebut terus meningkat. Supaya keuangan Anda tahun ini tetap sehat, mulailah mengurangi utang konsumtif yang tidak perlu. Pastikan besar porsi cicilan Anda setiap bulan memang Anda peruntukkan untuk utang yang baik.

4. Miliki tujuan keuangan

Tanpa tujuan yang jelas, semangat Anda dalam mengatur keuangan dengan cara terbaik bisa ikut mengendur. Bila Anda belum pernah melakukannya, mulailah saat ini juga. Sebuah tujuan keuangan yang baik harus memuat setidaknya 4 hal ini : tujuan pemakaian dana, kapan target pemakaian dana, bagaimana cara meraihnya dan instrumen apa yang digunakan untuk mencapai tujuan keuangan tersebut. Sebagai contoh, Anda ingin membeli rumah melalui kredit pemilikan rumah (KPR), tiga tahun lagi. Rumah yang Anda incar berharga Rp 400 juta saat ini. PR Anda saat ini adalah menyiapkan kebutuhan uang muka pembelian rumah sebesar 30% dari harga rumah.

Tiga tahun lagi, dengan asumsi inflasi properti sekitar 10%, harga rumah tersebut naik menjadi Rp 532,4 juta. Sehingga, kebutuhan uang muka yang harus Anda siapkan kurang lebih sebesar Rp 160 juta. Anda bisa mengumpulkan dana tersebut dengan berinvestasi rutin di instrumen investasi yang mampu mencetak pertumbuhan 15% per tahun sebesar Rp 3,5 juta per bulan. Hal yang sama bisa Anda terapkan untuk mencapai tujuan keuangan lain. Misalnya, kebutuhan dana pendidikan anak, dana liburan, dana pensiun, dana persiapan pernikahan, dan lain sebagainya. Anda bisa memanfaatkan kalkulator finansial yang banyak tersedia di internet untuk mengetahui kebutuhan investasi. Atau, langsung saja memakai jasa perencana keuangan profesional sehingga keuangan Anda bisa semakin terarah.

5. Berinvestasi sekarang juga!

Mengapa kita perlu berinvestasi? Jawabannya adalah karena ini : INFLASI. Inflasi atau laju kenaikan harga barang atau jasa membuat nilai uang kita terus menurun. Uang Rp 10 juta di tahun 2017 akan berbeda nilainya dengan uang dengan nilai yang sama pada tahun 2027. Nilai Rp 10 juta saat ini juga sudah berbeda dengan nilai uang sebesar itu pada tahun 1997. Inflasi menggerogoti nilai uang kita. Cara melawannya adalah dengan membuat uang Anda lebih produktif melalui langkah investasi.

Anda bisa berbangga bila saat ini gaji Anda, taruhlah, mencapai Rp 30 juta per bulan. Tapi, bila laju inflasi tahunan adalah 10% dan tingkat bunga 5%, dalam 10 tahun mendatang, uang senilai itu hanya setara dengan Rp 18,84 juta. Itu bila Anda membiarkan uang Anda begitu saja tanpa upaya mengembangkannya di produk investasi atau aset produktif. Jadi, satu-satunya cara melawan inflasi adalah menempatkan dana Anda di aset atau instrumen investasi yang bisa tumbuh melampaui laju inflasi. Misalnya, menjadikannya aset properti yang mampu tumbuh 15% per tahun, atau di produk saham yang mencetak kenaikan di atas 30%, dan lain sebagainya. Dengan menerapkan 5 langkah tersebut tahun ini, keuangan Anda tahun ini bisa lebih tertata. Hidup lebih sejahtera pun lebih mungkin Anda wujudkan. Selamat beraksi!

Sumber: HaloMoney

 Share post