Perjanjian Pranikah: Perlu atau Tidak?


Berbeda dari yang sering kita lihat dalam film drama, adegan dimana dua insan berkata “saya bersedia” dan berjanji untuk saling menerima di saat senang dan susah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Kenyataannya, sepasang suami-istri tersebut baru akan menjalani sebuah fase tak terduga bernama pernikahan.

Pembahasan topik sensitif seperti perjanjian pranikah bisa terdengar tidak romantis. Pemikiran seperti, “Apakah ini berarti ia tidak benar-benar mencintai saya? Apakah pasangan saya menyembunyikan sesuatu? Apakah ia sudah berpikir untuk bercerai?” bisa muncul di pikiran.

Tidak identik dengan perceraian

Gina, 29, adalah salah satu yang menganggap perjanjian pranikah identik dengan klausul “kalau bercerai”. Meski ia sempat mendengar tentang hal tersebut sebelum menikah, ia belum menganggapnya perlu. “Toh dari awal menikah kita berdua sama-sama dari nol. Jadi buat apa diributkan harta dia atau harta aku,” ujarnya kepada LiveOlive.

Namun, bagi Niken, 35, perjanjian pranikah –atau yang sering disebut perjanjian perkawinan di Kantor Urusan Agama (KUA)– ini penting karena menyangkut keamanan finansial pribadinya. Ia mengaku butuh waktu lebih dari setahun untuk mempertimbangkan pembuatan perjanjian ini sebelum menikah.

“Meski tidak bercerai, perilaku pasangan dalam mengelola keuangan juga berpengaruh terhadap kita… karena setelah menikah semua harta yang diperoleh adalah milik bersama jika tidak ada perjanjian perkawinan,” jelas Niken.

Jika sang pasangan mempunyai perilaku konsumtif, kata Niken, seluruh keluarga pun akan dirugikan karena harta yang diperoleh selama perkawinan adalah harta milik bersama.

Penting bagi pasangan pernikahan campur yang memiliki properti

gaun pernikahan

Fani, seorang WNI berusia 26 tahun perlu memiliki perjanjian pranikah semata-mata karena ia menikahi pria berkewarganegaraan asing.

“(Alasannya) karena nanti jika saya memperoleh warisan atau aset apapun setelah menikah, semua harta akan menjadi milik bersama. Sementara UU Agraria melarang warga negara asing untuk memiliki aset di Indonesia,” Fani menjelaskan. “Jadi, dengan perjanjian perkawinan, kami tidak harus menyerahkan aset kami kepada negara,” jelas perempuan yang sudah menikah selama tiga tahun tersebut.

Bisa melindungi jika pasangan rawan tuntutan hukum

Rima Gravianty Baskoro, Managing Partner dari Rima Baskoro & Partners Law Office, perjanjian pranikah penting untuk pasangan yang mempunyai pekerjaan rentan terhadap gugatan, seperti pengusaha.

“Misalnya saja ada pihak yang tidak puas, lalu pihak tersebut menuntut di pengadilan. Nah, dalam mengajukan gugatan, biasanya diikuti dengan adanya sita jaminan terhadap harta benda supaya gugatan tidak sia-sia. Jika pengadilan mengabulkan sita jaminan tersebut, maka yang disita adalah harta benda si suami dan istri meskipun yang digugat (hanya) suami atau istri,” jelasnya.

Menurut Rima, perjanjian pranikah tidak semenakutkan yang dikira orang. Di dalam perjanjian pranikah, biasanya hanya memuat klausul mengenai pemisahan harta masing-masing suami-istri. Jadi, dalam perjanjian tersebut, dinyatakan bahwa suami dan istri sepakat untuk tidak ada percampuran harta benda, artinya masing-masing suami dan istri tersebut akan mengurus dan tetap memiliki harta masing-masing, baik sebelum maupun setelah perkawinan terjadi.

Biaya dan Cara Pembuatannya

Lalu seberapa mudah sih membuat perjanjian pranikah ini? Menurut Rima, perjanjian bagi pasangan yang akan menikah harus dibuat dengan akta notaris. “Tapi bisa juga dengan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pengawas Pencatat Perkawinan,” imbuhnya. Fani mengaku menghabiskan Rp 2 juta untuk membuat perjanjian tersebut melalui notaris. Sementara itu, Niken –yang menikah empat tahun silam–  mengeluarkan biaya sebesar sekitar Rp 500.000.

“Di Indonesia perjanjian pranikah belum terlalu populer, tapi banyak yang mulai berpikir tentang itu,” kata Rima. Ia mengatakan bahwa tiap pasangan selayaknya memikirkan perjanjian ini baik-baik sesuai kebutuhan mereka. Nah, jika Anda memikirkan hal ini, konsultasikan dengan pasangan dan ahli hukum jauh-jauh hari sebelum pernikahan untuk menghindari prasangka dan kesalahpahaman.

Baca juga: 5 Alasan Keuangan Bagus untuk Menikah

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×