Cara Menabung dengan Menghentikan Kebiasaan Buruk


Menikmati makanan manis, minuman beralkohol dan merokok bisa menjadi pelepas penat untuk beberapa orang. Namun, kebiasaan tersebut ternyata tidak hanya mendulang masalah dari sisi kesehatan. LiveOlive mencoba membedah seberapa banyak uang yang mungkin bisa dialihkan untuk investasi jika kita bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.

Jumlahkan supaya Anda kaget

Ada kebiasaan buruk yang membutuhkan penanganan profesional dan medis untuk dihentikan, namun ada juga yang bisa dilakukan sendiri berbekal tekad dan disiplin tinggi.  

Psikolog Rosdiana Suryaningrum mengatakan bahwa dengan menjumlahkan uang yang dikeluarkan untuk kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa menjadi shock therapy tersendiri. Secara tidak sadar, kata dia, kita bisa menghabiskan sejumlah uang yang cukup banyak untuk hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. “Ini kalau terlalu banyak menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu, sudah habis banyak dan malah hasilnya tidak bagus,” katanya.

Ambil contoh kebiasaan merokok. Meskipun harga rokok di Indonesia bisa dibilang lebih murah dibanding negara lain, seorang perokok tidak akan sadar berapa banyak uang yang dihabiskan untuk rokok setiap harinya. Menurut data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), perokok di Indonesia rata-rata mengkonsumsi satu bungkus per hari. Jika dijumlahkan untuk belanja satu tahun, maka pengeluaran untuk rokok bisa mencapai Rp 6.120.000.

Hal yang sama juga ditemui pada konsumsi minuman beralkohol. Walaupun kebanyakan orang mengonsumsi minuman beralkohol satu atau dua kali seminggu dalam rangka melepas penat di akhir pekan, namun pengeluaran untuk komoditas yang satu ini juga mencapai jutaan bila dijumlahkan dalam setahun. Misalnya saja jika mengkonsumsi dua botol beer dan segelas wine setiap minggu –dengan asumsi harga beer dan wine masing-masing sebesar Rp 50.000 dan Rp 100.000, maka dalam setahun pengeluarannya mencapai Rp 9,6 juta.

Tak hanya itu, terkadang makanan manis menjadi pelampiasan saat stres. Tidak melulu makan makanan penutup yang mewah, mengonsumsi coklat hangat atau bubble drink juga menjadi kebiasaan yang tanpa kita sadari menguras kantong kita. Misalnya saja dalam sebulan menikmati es krim dengan mengeluarkan Rp 200.000 dan 2-3 gelas bubble tea seharga Rp 25.000 per minggu. Setelah dihitung, setahun kita bisa menguras isi dompet hingga di atas Rp 5 juta.

Saat ini, memiliki lebih dari satu perangkat elektronik (gadget) itu sudah dianggap hal yang wajar. Misalnya saja Anda memiliki satu BlackBerry, satu smartphone Android, tablet dan laptop. Dalam sebulan, praktis sekitar Rp 400.000 habis untuk membiayai internet empat gadget tersebut. Bila dijumlahkan, setahun bisa menghabiskan Rp 4,8 juta.

Mengalahkan kebiasaan buruk

Menetapkan tujuan baru adalah cara yang efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Misalnya saja, seperti kata Rosdiana, seseorang yang ingin menabung untuk menikah atau membiayai pendidikan anak. “Jika kita punya gambaran akan diapakan uang itu, motivasinya akan semakin bertambah untuk menghentikan kebiasaan buruk,” ungkapnya.

Selanjutnya, memilah antara “kebutuhan” dan “keinginan” juga tak kalah penting. Menurut Rosdiana, terkadang seseorang lebih mengutamakan keinginan dibanding kebutuhan. “Selain itu juga kita harus berpikir, apakah kebiasaan-kebiasaan tadi bisa mengurangi masalah kita? Apakah merokok, minum, makan manis bisa mencapai tujuan kita?” kata Rosdiana.

Buat uang tersebut bekerja untuk Anda

Saat ini ada cukup banyak cara untuk berinvestasi dengan jumlah dana yang terjangkau. Singkatnya, sisihkan uang tersebut ke rekening yang terpisah dari rekening sehari-hari Anda kemudian pilih produk investasi yang terjangkau dengan nominal tersebut.

Contohnya, saat ini reksa dana bisa dibeli bahkan hanya dengan Rp 100.000 per bulan dan memberikan imbal hasil sekitar 4% per tahun, atau bahkan hingga 20% per tahun.

Baca juga: Mengenal Mitos-Mitos Seputar Investasi

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×