Faktor Pertimbangan Sebelum Mendaftar S2


Pepatah “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina” menunjukkan bahwa pendidikan adalah salah satu hal penting yang patut diperjuangkan oleh setiap orang. Pendidikan juga telah lama dianggap sebagai tangga sosial –pengantar menuju penghidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Anggapan tersebut senada dengan hasil survei HSBC kepada 300 orang tua di Indonesia yang dirilis Mei lalu, dimana 54% responden percaya bahwa perguruan tinggi seharusnya dapat memberikan akses kepada para pelajar ke berbagai peluang hidup di masa depan. Sebanyak 63% orang tua mengaku ingin anak mereka memperoleh pendidikan hingga jenjang pascasarjana (S2).

Mungkin Anda termasuk salah satu orang yang berpikir untuk kembali ke bangku kuliah. Nah, ini saatnya mempertimbangkan beberapa hal berikut sebelum mengambil keputusan:

Pemilihan Bidang Studi  

Melanjutkan kuliah ke jenjang S2 sebaiknya tidak dilakukan semata-mata untuk menambah prestige, melainkan untuk menambah kualitas daya saing yang akan berguna di dunia kerja. Ada banyak orang, seperti Elana Rachel, yang belum punya rencana untuk melanjutkan S2. Perempuan berusia 22 tahun ini baru menamatkan kuliahnya di jurusan Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan dan mulai bekerja di sebuah perusahaan industri pertanian. Dengan bidang pekerjaannya saat ini, Elana mengaku masih dapat menuntaskan pekerjaan dengan membaca buku, belajar dari situs internet, serta bertanya ke rekan kerja senior yang lebih berpengalaman. Meski mengakui bahwa gelar S2 dapat menunjang jenjang karier, namun menurutnya hal tersebut belum menjadi prioritasnya saat ini.

“Belajar pun tidak terbatas harus di kampus, atau dengan dosen dan guru, karena belajar bisa dari siapa saja, dan dari mana saja,” katanya.

Ada bidang peminatan tertentu yang mewajibkan calon mahasiswa untuk memiliki pendidikan dasar S1 di bidang yang sama, seperti psikologi, kedokteran, atau teknik. Namun, prinsip ini tidak baku dan cukup fleksibel untuk bidang lain.

Dwinda Nafisah, 25, mantan penyiar Rase FM Bandung, adalah sarjana lulusan Sastra Jepang Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Sejak April lalu, ia bermukim di Tsu City, prefektur Mie, Jepang, sebagai bagian dari Program Double Degree Magister Ilmu Lingkungan Universitas Padjajaran-Bioresource Mie University yang diambilnya.  

Sebelum mendaftar, Dwinda sudah diwanti-wanti oleh kakaknya jika kuliah sastra dan ekologi sangatlah berbeda. Namun, menurutnya, ilmu S1 dan S2 yang ia dapatkan di Unpad ternyata sangat membantu studinya di Jepang. “Saya belajar banyak tentang ekologi sekaligus bisa berkomunikasi dengan narasumber penelitian saya dalam bahasa Jepang,” katanya.

Lain halnya dengan Reza Hidayat, 24, yang baru memulai kuliah S2 bidang Teknik Elektro dan Informatika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Alasannya, “untuk kembali mengembangkan ilmu yang telah dipelajari saat mengambil S1 ke jenjang yang lebih tinggi lagi.” Lulusan Universitas Hasanuddin, Makassar, ini pun berharap bisa menjadi sumber daya manusia yang lebih baik dalam aspek teori maupun praktek.

Tujuan Jangka Panjang

Waktu studi pascasarjana yang rata-rata dua tahun memang tidak selama waktu kuliah S1. Bagaimanapun, dengan status Anda yang sudah bekerja, hal ini akan mempengaruhi perjalanan karier Anda. Oleh sebab itu, Anda perlu memiliki proyeksi masa depan yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan setelah mengantongi gelar Magister. Pasalnya, seperti pemilihan produk investasi, Anda tidak bisa sekedar ikut-ikutan tanpa memiliki tujuan yang pasti.

Sebelum melanjutkan S2, Reza sempat bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah universitas negeri di Banjarmasin. Jauh sebelum lulus S1, ia sudah merencanakan untuk mengambil S2. “Saya meneruskan pendidikan ke jenjang S2 karena saya ingin menjadi seorang dosen. Berdasarkan aturan dan kondisi saat ini, seorang dosen minimal berpendidikan akhir S2,” tuturnya. Ia pun berencana mengumpulkan modal guna membiayai kuliah S3 setelah menyelesaikan studi pascasarjana. Tujuannya, untuk mengabdi ke dunia pendidikan dengan cara mengajar di perguruan tinggi dalam negeri.

Meski tak harus jadi tenaga pendidik, Anda sebaiknya sudah memiliki gambaran jangka panjang untuk memanfaatkan gelar tambahan yang nantinya akan disandang. Dwinda, misalnya, sudah memantapkan diri akan menjadi penulis ekowisata, yang berfokus pada tempat-tempat wisata dan produk terkait yang ramah lingkungan. Ia menuturkan bahwa ilmu ekologi yang dipelajarinya kini akan membuatnya lebih paham tentang prinsip ekowisata, sehingga ia dapat menilai dan membedakan produk ekowisata yang benar-benar menjalankan prinsip ekowisata atau yang hanya menancapkan label tersebut untuk berjualan.

“Saya juga mungkin akan kembali pada profesi di dunia radio dan membawakan program go green dan jalan-jalan lagi,” katanya kepada LiveOlive melalui e-mail.

Sumber Pendanaan

Selain menggunakan tabungan yang Anda miliki dari hasil bekerja selama bertahun-tahun, Anda juga dapat mempertimbangkan sumber pendanaan lain, misalnya beasiswa atau sponsor. Saat ini informasi beasiswa sangat mudah diperoleh, baik melalui pusat informasi di universitas, situs resmi universitas, juga situs-situs resmi lembaga pendidikan asing di Indonesia, misalnya Nuffic Neso Indonesia atau DAAD Indonesia.

Pastikan sebelum mendaftar beasiswa tertentu, Anda mengetahui jenis-jenis pembiayaan yang akan ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa. “Di Indonesia, biaya yang ditanggung beasiswa hanya beasiswa sekolah dan penelitian. Sedangkan di Jepang, mulai dari tiket pesawat, visa, sekolah, hingga biaya hidup ditanggung oleh Beasiswa Unggulan,” ujar Dwinda, salah satu penerima beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Reza mengingatkan bahwa di kampus dalam negeri pun tersedia beragam beasiswa bagi mahasiswa yang tengah mengenyam pendidikan, misalnya Beasiswa Program Magang (Sandwich-like), Beasiswa Voucher di ITB, ataupun Beasiswa Dikti.  

“Beasiswa double degree juga ada, karena kerjasama dengan kampus luar negeri terhitung banyak, baik dalam rangka ingin lanjut studi maupun untuk penelitian –tesis dan disertasi,” jelasnya.

Jangan ragu untuk mengikuti forum dan komunitas peminat beasiswa dan S2 untuk memperoleh akses yang lebih luas menuju informasi. Dengan begitu, Anda tidak akan melewatkan perkembangan terbaru seputar dunia pendidikan dan bisa belajar dari pengalaman orang lain.     

Baca juga: Tantangan Bekerja Sebagai Eksekutif di Luar Negeri

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×