Khairiyyah Sari: Membawa Aset Seleb ke Lemari Fashionista


Mencintai fashion tak selalu identik dengan konsumsi merek-merek ternama secara berlebihan. Khairiyyah Sari bahkan mampu memanfaatkan kecintaan tersebut untuk ide bisnis.

Sarjana Psikologi dan lulusan Fashion Styling Program dari Fashion Institute of Technology (FIT) di New York City ini pernah menjadi Executive Fashion & Beauty Editor di majalah Femina, dan tengah menikmati profesinya sebagai konsultan gaya, blogger dan co-founder bebelian.com, toko online yang menjual tas desainer second-hand milik selebritis Indonesia.

LiveOlive memperoleh kesempatan mengenal sosok pengusaha chic ini lewat sebuah wawancara singkat.   

LO: Saat beranjak dewasa, seperti apa (nilai) uang buat Anda?

Sari: Uang berharga, apalagi bila kita work for the money. Jadi kita bisa menghargai uang sehingga membeli barang apa pun tidak sembarangan. Uang membuat kita semakin dewasa, misalnya kalau berbelanja fashion item, saya akan mempertimbangkan apakah barang tersebut “value for money”. Lebih melihat kualitas dan bukan kuantitas.

LO: Apa yang diajarkan orang tua Anda mengenai uang?

Sari: Mereka mengajarkan bahwa hidup harus cukup saja dan bukan berlebihan –bisa cukup untuk sandang, pangan, papan dan good education. Plus, cukup untuk traveling paling tidak setahun dua kali.

Saya sebenarnya banyak belajar dari Mama. Beliau adalah (ibu rumah tangga) yang canggih mengatur uang. Berkat kepiawaiannya mengatur uang, saya sedari kecil sudah traveling keliling dunia. Mama saya juga bisa memiliki beberapa properti dari hasil tabungannya. Tapi, nampaknya saya sadar bahwa saya belum bisa seperti Mama. Terus terang, matematika saya buruk sejak SD. Jadi saya bersyukur sekarang memiliki suami yang pintar berhitung. I’m so the opposite of my Mom.

LO: Apa yang membuat Anda terpikir untuk memulai bisnis?

Sari: Saya sudah mengenal industri (fashion) sejak saya ikut pemilihan model dan saya menyukai tas. Tapi, saya paling senang jika mendapatkan barang-barang yang disukai dengan harga miring. Melihat barang-barang selebriti Hollywood yang dilelang (di eBay) membuat saya berpikir, “Mengapa tidak membuat hal yang sama dengan barang-barang seleb Indonesia, namun tanpa proses lelang?” Apalagi pekerjaan saya ketika itu membuat saya banyak bertemu selebriti untuk keperluan pemotretan. Maka, saya ajak teman saya, Dewi Rezer, untuk menjadi rekan bisnis.

LO: Berapa modal yang diperlukan untuk memulai bisnis tersebut?

Sari: Waktu itu kami launch bebelian.com 10 Januari 2011, dengan modal sekitar Rp 5 juta, untuk bayar web designer dan maintenance-nya. Tidak terlalu banyak juga karena pada dasarnya saya sendiri yang menulis artikel dan tips di sana. Ketika memulai, modal lainnya hanya berupa kepercayaan dari teman-teman selebriti. Ketika baru dibuka, sudah ada lima selebriti yang mau menjual tasnya di bebelian.com. Sekarang, jumlahnya semakin bertambah.

LO: Kesulitan atau ketakutan apa yang Anda miliki ketika memulai bisnis?

Sari: Tidak ada ketakutan sih. Hanya waktu itu sempat terpikir bagaimana kalau tidak laku. Namun setelah launching, saya dan Dewi semakin percaya diri bahwa proyek ini akan laku.

LO: Beberapa tahun terakhir, pasti ada banyak tantangan yang dihadapi. Perkembangan apa yang Anda lakukan dalam menjalankan usaha ini?

Sari: Tantangan untuk bebelian.com adalah bagaimana kita bisa terus dapat klien selebriti. Oleh sebab itu, sejak setahun terakhir, saya dan Dewi tidak hanya menjual barang-barang dari selebriti, tapi juga merambat ke barang-barang milik fashion people –misalnya desainer dan editor fashion– serta milik para sosialita dan pengusaha. Lalu, untuk produk yang dijual sudah tidak hanya tas saja, tapi ada sepatu dan aksesoris lainnya. Saya dan Dewi terus mencari ide-ide baru agar pengunjung situs bebelian tidak bosan, maka selalu ada detail tentang tas beserta tips pemakaiannya.

LO: Apa tips dari Anda untuk memulai suatu usaha?

Sari: Sebaiknya lakukan dengan sesuatu yang mana kita memiliki passion untuk menjalankannya. Dengan begitu, kita akan senang melakukannya. Dalam menjual barang, memang ada masanya suatu barang tidak laku; it doesn’t matter, toh nanti ada saatnya di mana barang tersebut akan laku.

LO: Apa motto hidup Anda dalam mengatur keuangan?

Sari: Waduh, jujur saya masih butuh banyak belajar untuk bicara motto hidup. Tapi saya memiliki prinsip untuk tidak membeli sesuatu kalau kita tidak mampu. Forget prestige! Belilah sesuatu karena memang Anda suka dengan barang itu, jangan karena ikut-ikutan dan peer pressure. Saya bukan pengguna kartu kredit hingga gila-gilaan. Saya akan belanja ya, kalau memang mampu. Oleh sebab itu, kadang kalau saya belum mampu beli yang retail koleksi terbaru, saya akan tunggu hingga musim sale tiba. Untuk tas, saya tidak masalah untuk membeli barang second-hand asal kondisinya masih prima.

LO: Apa keputusan keuangan terbaik yang pernah Anda buat?

Sari: Saat saya memutuskan untuk mulai investasi. Nah, saya merasa agak pinter sekarang! Ada di properti dan asuransi. Mengapa? Kalau properti kan selalu naik nilainya. Untuk luxury brand, bisa juga untuk investasi tapi bukan hal utama.

LO: Apa keputusan keuangan terburuk yang pernah Anda buat?

Sari: Terus terang, tidak ada. Mungkin karena saya beli sesuatu hanya kalau mampu saja. Kalau tidak, ya tidak usah beli, tidak masalah.

LO: Apa definisi Anda tentang kemakmuran?

Sari: Makmur itu apabila kita happy dan enjoy dengan apa yang kita miliki. Bersyukur, istilahnya. If you feel complete or fulfilled, saat itu-lah kita makmur.

LO: Apa rencana Anda dalam lima tahun ke depan?

Sari: Tentu mempunyai dan membesarkan anak. Traveling with kids. Launching buku seharusnya juga sudah selesai. Dan terus melakukan hal-hal yang saya cintai.

Baca juga: Fakta Tersembunyi Tentang Diskon

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×