Mitos Kerja Telecommute di Indonesia


Bekerja menggunakan sistem telecommuting atau remote working menjadi semakin umum dalam beberapa tahun terakhir. Kantor berita Reuters melaporkan pada tahun 2012 ada sekitar 20% pekerja di seluruh dunia yang bekerja dari rumah setiap hari. Di Indonesia, persentase ini bahkan lebih tinggi lagi, yakni sekitar 34%.

Walaupun begitu, masyarakat secara budaya masih cenderung berpikir bahwa “Jika Anda tidak bekerja di kantor, maka Anda tidak benar-benar bekerja”. Padahal sebenarnya pekerja yang bekerja di rumah dibayar sama besarnya dengan pekerja kantoran.

Berikut ini adalah beberapa mitos terkait sistem kerja telecommute yang kini makin populer di Indonesia.

Mitos #1: Mendisiplinkan karyawan adalah tantangan terbesar dalam telecommuting

“Sejak tahu saya kerja di rumah, orangtua murid sekolah anak saya sering mengajak saya jalan-jalan sembari menunggu anak-anak pulang sekolah. Dengan sopan saya katakan, bahwa saya harus bekerja. Terkadang ada yang setengah memaksa dengan mengatakan, ‘Ah kamu kan kerjanya bebas, nggak ada bos, ayolah…’ Mereka belum paham bahwa saya juga punya deadline dan target, yang akan sulit dicapai kalau kita tidak disiplin,” ungkap Nelly, 30, seorang staf sales & marketing. 

Efi, seorang manajer media sosial berusia 20an juga mengakui hal ini. "Ibu saya sering meminta saya untuk menemaninya ke mal selama jam kerja dan saya harus terus mengingatkan ibu bahwa saya benar-benar sedang bekerja,” ungkapnya.

Kenyataannya, tantangan terbesar untuk menjalani sistem kerja ini ialah mendisiplinkan dan mengubah pola pikir keluarga dan teman-teman dari si pekerja telecommute tersebut.

Mitos #2: Anda bisa melakukan apa saja, kapan saja Anda inginkan

“Saya sering sekali dapat komentar, ‘Aduh asyik dong ya, kerjanya santai. Nggak perlu bangun pagi, bisa tidur siang.’ Nyatanya, meskipun tak harus ke kantor, saya tetap menjalankan rutinitas seperti orang kantoran pada umumnya, kok. Bangun pagi, mempersiapkan diri –mandi, sarapan– kemudian bekerja, istirahat untuk makan siang, kemudian lanjut kerja lagi. Sama saja, kan, bedanya hanya tidak perlu ke kantor saja,” ucap Indah, 34, seorang manajer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Meski sistem telecommute memberi beberapa keleluasaan dalam bekerja, namun menjaga rutinitas seperti halnya bekerja di kantor tetap harus dilakukan, misalnya bekerja tepat waktu, menepati tenggat waktu. Jika tidak, pekerjaan anggota tim lain bisa sangat terganggu.

Mitos #3: Anda akan lebih sulit naik jabatan

Ivan, seorang supervisor, mendobrak mitos ini dan mengatakan bahwa, "dengan telecommuting , fokusnya justru adalah hasil kerja karyawan dan bukan kemampuan orang tersebut berpolitik di kantor. Jadi siapa pun yang mampu menunjukkan hasil dan kinerja baik memiliki kesempatan yang sama untuk dipromosikan.”

Mitos #4: Anda akan bosan setengah mati 

Berhadapan dengan layar komputer selama berjam-jam, tidak bertemu siapa-siapa... Tapi, benarkah bekerja di luar kantor harus seperti itu? Maya, 35, seorang konsultan keuangan membantah hal ini dan berkata, "Saya bisa mengubah suasana kerja kapan saja. Saya bisa memilih bekerja di taman atau di kafe favorit saya." 

Sebaliknya, sistem  telecommute memberi keleluasaan bagi si pekerja untuk memilih suasana kerja yang ia inginkan. Kini, bahkan pekerja cubicle pun banyak memilih tempat meeting di luar gedung kantor mereka untuk menambah variasi.  

 Mitos #5: Nantinya akan susah berkomunikasi dan mendelegasikan pekerjaan

“Tim kami punya WhatsApp group, jadi kami bebas berbagi informasi dan bisa menagih hasil kerja anggota tim lain yang harus dikumpulkan,” ujar Ami, seorang manajer kantor. "Kami juga memiliki kebijakan dalam perusahaan bahwa begitu ada keraguan, justru perlu berkomunikasi lebih banyak dan bukannya lebih sedikit," tambahnya.

Menggunakan teknologi secara efektif menjadi sangat penting. Perangkat kolaborasi dokumen seperti Dropbox, Box dan perangkat lunak untuk kolaborasi proyek seperti Wrike, sangat memudahkan pengelolaan proyek –meski ketika anggota tim sedang berada di lokasi yang berbeda-beda.

Singkatnya, kerja telecommute memiliki manfaat yang jelas –tidak harus menghabiskan waktu di kemacetan lalu lintas, meningkatkan produktivitas dan kehidupan yang lebih seimbang. Meski begitu, bukan berarti sistem ini cocok bagi semua orang. Jadi, sebelum Anda mengusulkan hal ini kepada perusahaan atau atasan, periksa dulu apakah Anda memang siap bekerja secara mandiri a la telecommuting

Bacaan lain: 5 Kemampuan yang Perlu Dimiliki Tenaga Kerja Baru

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×