Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bitcoin di Indonesia


Di awal 1990an ketika internet mulai dikembangkan dan orang mulai diperkenalkan pada HTML, mengirim surat lewat kantor pos dan mendengarkan musik lewat pita rekaman masih merupakan hal yang wajar.

Tak lebih dari satu dekade kemudian, semua orang bisa mengirim surat, mengunduh lagu, bahkan menelepon siapa pun di mana pun secara gratis melalui akses internet. Tidak ada yang berhak memiliki internet atau melarang pengguna untuk menaruh informasi apapun ke dalam sistem tersebut.

Hal di atas mungkin bisa menjelaskan posisi Bitcoin di mata penggunanya saat ini yang diperkirakan sudah mencapai lebih dari satu juta orang di seluruh dunia.

Bitcoin Meniadakan Jarak dan Birokrasi

"Bayangkan seseorang yang bekerja di Singapura dan harus mengirim uang secara rutin untuk ibunya di Indonesia. Setiap bulan, uang yang diterima ibunya bisa terpotong hingga 10% dari total uang yang dikirim, karena melalui banyak jalur (perbankan)," Tiyo Triyanto, 30, seorang pengguna Bitcoin memberi contoh dari kisah nyata temannya.

"Dengan Bitcoin, ia bisa mentransfer uang tersebut dengan biaya beberapa sen (dolar) saja karena peer-to-peer (orang ke orang)," tukas Tiyo yang sempat menciptakan sebuah perangkat ‘penambang’ Bitcoin berbentuk USB yang dinamai RedFury.        

Menurutnya, Bitcoin saat ini masih dalam tahap awal dan ke depannya tidak hanya berfungsi sebagai mata uang. “Bitcoin adalah teknologi, protocol yang memungkinkan kirim informasi ke mana saja,” ujarnya. “Kami (pengguna Bitcoin) menggunakan uang semudah memakai WhatsApp. Kita bisa mengirim uang bahkan senilai Rp 500 ke mana pun di seluruh dunia,” kata Tiyo.

Bitcoin Bukan Mata Uang Sah

Di bulan Februari, Bank Indonesia memberikan pernyataan bahwa Bitcoin dan mata uang digital ( virtual currency) lainnya tidak dianggap mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.

"Masyarakat dihimbau untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya. Segala risiko terkait kepemilikan atau penggunaan Bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik atau pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya," kata Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia dalam siaran pers resminya.

Meski hingga saat ini belum dianggap sebagai mata uang sah di negara manapun dan tidak dijamin oleh institusi apapun, Bitcoin masih menarik minat banyak orang, bahkan di Indonesia.

Faisal, 31, mengaku pernah mencoba untuk membeli Bitcoin tahun lalu. Namun, karena masih meragukan keabsahannya, pria yang bekerja di perusahaan media ini memutuskan untuk menjualnya.

“Karena kasus situs Bitcoin di Amerika yang diretas, saya jadi nggak yakin dengan keamanannya,” ujarnya.

Bitcoin Berdasarkan Penawaran dan Permintaan

CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, mengatakan bahwa sekali Anda membeli Bitcoin, maka Anda akan menyimpan BTC –istilah populer untuk Bitcoin– tersebut secara mandiri. “BTC ini bisa dijual di pasar jika Anda ingin menjualnya. Harga penjualan di pasar tergantung dengan kesepakatan. Persis seperti di pasar,” jelas Oscar. Bitcoin Indonesia adalah salah satu perusahaan yang melayani jual beli Bitcoin online di Indonesia.

Dengan sistem yang murni berdasarkan penawaran-permintaan, BTC yang saat ini laris di Tiongkok dan Amerika Serikat ini menjadi “komoditas” yang menjanjikan. Kenaikan harga satu BTC bahkan mencapai 10.000% dibanding tahun 2012 silam. Meski begitu, sistem pasar inilah yang membuat harga BTC sangat fluktuatif.

Bitcoin Dihargai Berbeda-Beda di Tiap Negara

Sistem BTC murni desentralisasi dimana data dalam BTC dipegang sendiri tapi terkoneksi secara otomatis dalam sistem BTC. Untuk itu, Oscar mengatakan harga BTC berbeda-beda di setiap negara dengan mata uang yang berbeda. Kisaran harga 1 BTC di Indonesia per 17 Oktober adalah Rp 4,6 juta.

Dengan perbedaan harga antar negara ini, seseorang bisa mengambil untung lebih dari pasar mata uang.

Resiko Sepenuhnya Ditanggung Sendiri

Meski penggunanya menganggap Bitcoin lebih aman dari saham dan pasar uang, Oscar tidak menampik tetap ada resiko di balik BTC, misalnya peretasan (hacking). Menurutnya, satu-satunya hal yang menjadi pengaman BTC adalah email pribadi yang menjadi jalur pengiriman password dan token untuk pemegang BTC. “Jadi tipsnya agar tidak gampang di-hacked adalah dengan mengganti password email secara berkala,” ujarnya.

Menurut Tiyo, yang penting adalah memilih tempat menyimpan Bitcoin (Bitcoin Wallet) yang kredibilitasnya tercermin dari para pendiri dan pengelola di belakangnya. Dengan Bitcoin wallet, pengguna memiliki semacam virtual bank account yang memungkinkan orang tersebut menerima Bitcoin, membayar dengan Bitcoin atau menabung.   

Sebelumnya tidak pernah ada mata uang baru yang diciptakan sendiri, sehingga sangat sulit untuk membayangkan perkembangan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa sebagian besar bisnis Bitcoin tergolong baru dan masih dalam proses pendewasaan. Dalam hal ini, ada baiknya menunggu dan mengamati untuk lebih yakin akan keamanan dan kepastian Bitcoin sebagai instrumen transaksi atau investasi. 

Baca juga: Tantangan 30 Hari Hidup Hanya dengan Uang Tunai

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×