Bedah Anggaran: 3 Ibu Rumah Tangga


Sebagai ‘menteri keuangan’ keluarga, perempuan menjadi semakin percaya diri dan berpengaruh dalam hal pengaturan anggaran rumah tangga.

Dalam Bedah Anggaran kali ini, kita akan melihat bagaimana tiga ibu rumah tangga mengelola tak hanya pengeluaran sehari-hari mereka, tetapi juga investasi, cicilan dan asuransi untuk seluruh anggota keluarga.

Tyas, 34 tahun

Tyas saat ini tinggal di Surabaya. Meski punya pekerjaan sampingan, namun penghasilannya tidak stabil; bahkan, bisa dibilang sangat musiman. Saat ini, pendapatan sang suami rata-rata mencapai Rp 18 juta per bulan dan Tyas sendiri hanya menghasilkan sekitar Rp 250.000 per bulan.

“Soalnya bisnisnya musiman. Lebaran lalu bisa dapat 2 juta rupiah, tapi setahun sekali saja,” ungkapnya.

Saat ini, dia dan suaminya mempunyai dua tanggungan cicilan rumah, yaitu di Jakarta dan Surabaya. Kedua cicilan tersebut sudah memakan 30% dari total pendapatan sang suami. Selain cicilan rumah, Tyas juga harus membayar utang sebesar Rp 3 juta ke bank.

Pasangan suami-istri ini menghabiskan sedikitnya Rp 4 juta untuk kebutuhan belanja bulanan. “Kami juga ada investasi Rp 1 juta dan tabungan Rp 1 juta per bulan,” kata Tyas. Sisa uang mereka kemudian digunakan untuk asuransi unit link.

Target:
Menurut Tyas, ia dan suami saat ini tidak memiliki target keuangan spesifik. Dengan adanya dua cicilan KPR yang masih berjalan hingga 14 tahun ke depan, Tyas berkata bahwa target mereka ialah supaya “semua utang dan cicilan lunas dulu” sebelum mengejar target yang lain.

Komentar LiveOlive:
Keputusan Tyas dan suaminya untuk menabung dan menaruh sekitar 10% dari penghasilan ke dalam investasi sudah baik, bahkan mereka berhasil mempertahankan porsi pembayaran cicilan sebesar 30% dari penghasilan.

Berhubung mereka sepertinya memiliki uang yang masih menganggur, Tyas harus mempertimbangkan untuk membayar utang lain secepatnya, terutama yang memiliki dikenakan bunga tinggi. Ia harus melakukan ini sebelum menyisihkan dana ke dalam investasi.

Selain itu, hal yang cukup penting adalah memiliki dana darurat sebesar 6-8 bulan biaya hidup, terutama karena mereka masih mempunyai dua cicilan KPR yang belum lunas.

Puji, 32 tahun

Bagi Puji, seorang ibu dua anak, mengatur uang sering membuat sakit kepala. Dengan anak kedua yang baru menginjak usia enam bulan dan anak pertama yang akan masuk TK tahun depan, ia mengaku perlu memutar otak untuk mengatur keuangan rumah tangganya.

“Tambah anak berarti tambah biaya. Apalagi pendidikan saat ini tidak murah,” kata Puji, yang saat ini masih tinggal bersama orang tuanya.

Saat ini, sang suami mempunyai pendapatan sekitar Rp 13 juta per bulan, sementara Puji tidak dapat memiliki pekerjaan sampingan karena ia terlampau sibuk mengurus kedua anaknya.

Baru-baru ini, Puji mengaku, mereka memutuskan mengambil pinjaman untuk membeli mobil baru; artinya kini mereka punya cicilan mobil sebesar Rp 4 juta per bulan selama tiga tahun ke depan. Setelah memutuskan untuk membeli mobil, Puji mengaku tabungan mereka sudah terpangkas separuh. Untungnya, mereka tidak menyentuh uang yang ditabung untuk biaya pendidikan anak saat masuk SD nanti.

“Saya memang menyisihkan Rp 500.000 (per bulan) untuk tabungan pendidikan anak pertama kami,” ujar Puji, sambil menambahkan bahwa ia tidak punya investasi selain deposito berjangka.

Sementara itu, kebutuhan sehari-hari mereka mencapai sekitar Rp 4 juta per bulan, termasuk untuk membiayai sekolah anak pertama dan kebutuhan anak kedua. Di luar itu, sang suami harus mengirimkan uang untuk orangtuanya, yaitu sekitar Rp 2 juta per bulannya.

Target:
Puji dan suaminya ingin membangun rumah di Yogyakarta. Untuk ini, Puji mengaku membutuhkan sekitar Rp 500 juta, namun baru mengumpulkan sekitar Rp 30 juta dari tabungannya yang terdahulu. “Kami ingin menggunakan cicilan untuk membangun rumah itu,” tukasnya.

Komentar LiveOlive:
Puji memang benar saat mengatakan biaya pendidikan tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam mempersiapkan dana kuliah untuk anak-anaknya, ia perlu mempertimbangkan investasi karena ini satu-satunya cara untuk mengatasi kenaikan harga pendidikan. Rp 500.000 yang disisihkan setiap bulan untuk membiayai TK bisa dimasukkan dalam deposito berjangka, sehingga ia bisa memperoleh bunga lebih tinggi dari tabungan.

Cicilan kendaraan mereka –memakan sekitar 30% penghasilan suami– sebenarnya cukup tinggi. Untuk mencegah beban tambahan dalam anggaran dan arus kas bulanan mereka, kami menyarankan Puji dan suaminya untuk mempertimbangkan kembali niat untuk mengajukan pinjaman sebagai biaya pembangunan rumah di Yogyakarta. 

Dila, 30 tahun

Dila yang dulunya bekerja di bagian pemasaran sebuah perusahaan media memutuskan untuk mengundurkan diri saat kehamilannya memasuki usia enam bulan. Baru setahun yang lalu Dila memutuskan untuk bekerja dari rumah, yaitu dengan menjual produk kecantikan. Ia mengungkapkan bahwa gaji sang suami mencapai Rp 9 juta per bulan, sementara penghasilannya sendiri tiap bulan berkisar antara Rp 2,1 juta hingga Rp 3,5 juta.

Pasutri ini baru saja membeli rumah di Bekasi, Jawa Barat, seharga Rp 500 juta dan membayarnya dengan cicilan KPR sebesar Rp 4 juta selama sepuluh tahun.

Menurut Dilla, biaya renovasi rumah tersebut memakan sebagian besar dari penghasilan gabungan mereka –atau sekitar 35%, sementara 5%-10% dimasukkan ke dalam tabungan dan sisanya digunakan untuk keperluan sehari hari. Pendapatan dari kerja sambilan Dila digunakan untuk membiayai kebutuhan anak mereka yang baru berusia dua tahun, seperti imunisasi, buku, mainan dan sebagainya.

Meski saat ini tabungan mereka tidak lebih dari Rp 50 juta, Dila memiliki simpanan emas. Ia menganggap logam mulia ini sebagai investasi jangka panjang; saat ini ia memiliki 17 keping emas dalam bentuk batangan yang bervariasi beratnya –sebagian besar adalah bawaan Dila sebelum menikah. Ia berencana untuk menyimpan emas tersebut hingga 5-10 tahun ke depan atau menggunakannya sebagai dana darurat.

Target:
Dila ingin meningkatkan tabungan untuk membiayai renovasi rumah dan mempersiapkan pendidikan anak. Ia ingin memasukkan putranya, Arda, ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat si kecil berusia empat tahun.

Komentar LiveOlive:
Sekarang adalah saat yang tepat untuk mempersiapkan dana pendidikan anak untuk masa kuliah. Dila perlu mempertimbangkan investasi karena mereka memiliki jangka waktu yang panjang, 15-16 tahun hingga Arda masuk universitas.

Pembayaran cicilan rumah Dila termasuk tinggi, sebesar Rp 4 juta atau memakan 44% dari penghasilan suaminya, sehingga kalau bisa kurangi sedikit jumlahnya dari bonus atau uang lebih yang dimiliki. Hal ini untuk mengurangi beban tambahan dalam arus kas bulanan atau anggaran.

Dila juga perlu menetapkan anggaran untuk renovasi rumah dan menabung untuk tujuan tersebut. Berhubung cicilan rumah/ KPR mereka sudah termasuk tinggi, ia perlu menekan pengeluaran untuk renovasi rumah semaksimal mungkin.

Terakhir, ia perlu memastikan sang suami memiliki asuransi jiwa dan seluruh anggota keluarga dilindungi oleh asuransi kesehatan yang memadai.

*Note: Komentar LiveOlive berdasarkan informasi yang didapatkan dari wawancara. Hasil portfolio bisa bervariasi tergantung kinerja produk investasi. Nama, gambar dan detail lainnya telah diganti untuk melindungi privasi individu. 

Baca juga: Bedah Anggaran: 3 Karyawan Kantor

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×