Mengetahui Hak Wanita Saat Menjalani Perceraian


Hak atas Privasi

Bagi mereka yang menjalaninya, kasus perceraian sangat sensitif dan pribadi. Detail kasus ini tidak boleh dibuka ke publik atau bahkan disaksikan oleh orang asing selain pihak-pihak yang bersangkutan. “Sidang cerai itu sifatnya tertutup,” kata Margarete. “Berkasnya pun tidak akan keluar ke khalayak umum,” tutur wanita berusia 29 tahun yang sudah berpraktek selama lebih dari lima tahun tersebut.

Ia menyarankan untuk mempergunakan hak ini untuk bersikap terbuka di pengadilan. “Hanya ada hakim dan pasangan yang ingin bercerai di dalam ruang sidang, ungkapkan apa yang ada agar putusannya bisa dilihat dengan baik oleh hakim,” katanya.

Sally, seorang wanita yang bercerai dengan gugatan berdasarkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mengakui bahwa keterbukaan mengungkapkan apa yang terjadi dalam pernikahannya sangat membantu melancarkan segala proses sidang. “Hasil visum yang saya berikan sangat mempermudah sekali untuk membuktikan di pengadilan,” ungkapnya.

Hak dan Kewajiban untuk Urusan Nafkah

Setelah mengajukan gugatan cerai, beberapa hak dan kewajiban suami dan istri harus masih dapat dipenuhi, salah satunya dalam urusan nafkah alias dana pengeluaran rumah tangga.

“Untuk urusan uang, si istri masih berhak untuk meminta ke suami untuk dinafkahi,” kata Margarete. Namun, apabila sudah ada putusan pengadilan, kondisi baru akan berubah.

“Setelah ada putusan pengadilan, barulah yang tinggal di rumah itu sesuai dengan putusan pengadilan,” jelasnya. Selain itu, nafkah yang diberikan suami hanya untuk anak-anak, seperti untuk kebutuhan makan dan  pendidikan, dan bukan ke istri.

“Meski suka lewat dari tanggal yang disepakati, kewajiban (mantan suami) masih dipenuhi untuk tabungan pendidikan, tabungan pribadi anak saya, dan juga untuk hal-hal mendesak lainnya,” tutur Sally yang bekerja sebagai humas ini.

Pembagian Aset dan Utang

Selama pernikahan, tentunya wajar jika ada penambahan harta dan utang. Hal inilah yang nantinya akan dibicarakan melalui proses hukum –jumlah aset yang dibagi dan apa saja yang termasuk di dalamnya. Akan tetapi, istri tidak memiliki kewajiban untuk membayar utang yang menjadi beban pasangan, misalnya  utang kartu kredit milik suami. Pembicaraan mengenai hal ini sangat penting dilakukan saat proses perceraian berlangsung, sehingga pihak wanita tidak akan terjebak membayar utang di luar kewajibannya –yang tentunya akan membebani pengeluaran hingga beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun mendatang.       

Baca juga: Tips Berdiskusi Tentang Uang dengan Pasangan

  2 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×