Kiat Bertahan Secara Finansial Setelah Cerai


Tak ada pasangan suami-istri yang menginginkan perceraian. Namun jika itu terjadi, siapapun harus siap menghadapinya. Bukan hanya mempersiapkan mental, melainkan juga segala sesuatu yang berhubungan dengan uang.

Lalu, bagaimana cara bertahan secara finansial ketika menghadapi perceraian? Berikut ini tips dari mereka yang telah melaluinya.

1. Buat inventori aset

Inventori aset ini terutama untuk harta-benda yang dihasilkan bersama setelah menikah. Daftar aset Anda sebaiknya meliputi:

Di Indonesia, Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 35 menyebutkan dua kekayaan yang bukan termasuk harta bersama. Pertama, harta bawaan yang sudah dimiliki suami atau istri  sebelum menikah. Kedua, harta perolehan yaitu harta milik suami atau istri setelah menikah dari hibah, wasiat, atau warisan.

Ally, seorang wirausaha muda yang bercerai sekitar tiga tahun lalu mengatakan, “Saya ‘beruntung’ belum terlalu lama menikah, jadi masih cukup jelas aset yang harus dibagi. Waktu itu juga ada pembicaraan verbal tentang apa yang akan kita bagi, dalam hal ini rumah dan mobil,” jelas wanita berusia awal 30an tersebut.

2. Tinjau ulang utang dan asuransi

Apa saja utang yang terkumpul selama menikah? KPR, KPA, KPM, asuransi jiwa, asuransi pendidikan anak, hingga asuransi harta berharga perlu Anda tinjau kembali keberadaannya.

Segera tutup rekening tabungan atas nama bersama setelah pembagian harta tuntas. Selain itu, tutup kartu kredit tambahan yang diberikan atau beratas nama pasangan sehingga Anda tidak perlu bertanggung jawab terhadap utang mantan suami. Yang tak kalah penting, revisi nama tertanggung atau penerima manfaat pada polis asuransi.

“Sejak bercerai, aku langsung menutup dua kartu kredit " gold"-ku. Aku tidak ingin terlibat utang dan hidup tidak tenang. Aku juga langsung membuat asuransi untuk aku dan anakku, meskipun ia dapat juga tunjangan pendidikan dari papanya," kata Pritha, 31, seorang ibu satu putri yang bercerai tujuh tahun lalu

3. Selesaikan segala legalitas dan copy semua dokumen penting

Ini termasuk mengurus paspor anak, fotokopi akta kelahiran, mengubah Kartu Keluarga (KK), hingga menyesuaikan segala urusan legalitas bisnis bersama.

“Jika berbisnis bersama pasangan, pastikan ada hitam di atas putih yang menyebutkan jumlah share masing-masing di bisnis tersebut. Jangan sampai kehilangan bagian ketika harus berpisah, hanya karena membangun bisnis berdasarkan saling percaya tanpa ada kekuatan legalitas,” saran Ally.

4. Pelajari keterampilan baru, perluas network dan tambah saluran pemasukan

Menurut Ally, dirinya mengalami perubahan sejak bercerai. “Secara pribadi, saya jadi lebih berani keluar dari zona nyaman dan mau mencoba berbagai hal baru. Saya juga siap naik ke jenjang yang lebih tinggi –baik itu dalam hal karier, bisnis, jejaring, kontribusi kepada komunitas, dan sebagainya. Itu semua berdampak baik langsung maupun tidak langsung kepada sumber pendapatan dan kesempatan yang datang kepada saya,” jelasnya. 

Dengan melakukan sedikit "riset", Anda akan menemukan berbagai komunitas dan  situs yang bisa menyemangati Anda.  

“Yang paling penting, seharusnya ada atau nggak ada suami, wanita terus berkarya dan (punya) kegiatan, sehingga tetap update dengan 'dunia luar' dan punya pegangan dan jalan keluar saat ada kejadian yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Sementara waktu akan perlahan-lahan menyembuhkan luka hati, keputusan keuangan yang Anda buat di saat-saat sensitif ini akan meninggalkan efek yang berkepanjangan. Pastikan Anda memiliki kepala dingin dan membuat keputusan yang benar. 

Baca juga: Bedah Anggaran 3 Orang Tua Tunggal

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×