Waspadai 4 Hal Berikut Sebelum Menikah


Cinta tidak cukup untuk menjaga sebuah pernikahan. Masa-masa pacaran sebelum menikah adalah saat melakukan penjajakan untuk saling memahami kepribadian pasangan. Meski tiap hubungan memiliki dinamika berbeda, ada indikator tertentu yang bisa jadi akar permasalahan atau racun pernikahan Anda di masa mendatang.

Jika Anda berniat melangkah ke jenjang selanjutnya, waspadai hal-hal berikut pada pasangan Anda.

Hidup mewah melebihi kemampuan

“(Dulu) saya kewalahan dengan (mantan) istri yang menuntut saya membelikan dia barang-barang bermerek dengan harga selangit. Bayangkan, uang THR dan bonus tahunan saya dipakai habis cuma buat beli sebuah tas. Saat saya marah, dia bilang saya tidak mengerti 'investasi'. Tapi masalahnya dana darurat saja kami nggak punya, masih ada utang kartu kredit pula,” urai Doni, 45, yang sudah bercerai dan menikah lagi.

Memakai perhiasan, sepatu, tas, jam tangan bermerek, dan baju desainer sah-sah saja, jika pemakainya memang mampu. Tetapi, jika ia ternyata tidak memiliki kemampuan membeli barang-barang mewah, namun memaksakan keinginan untuk membeli, ini adalah tanda bahwa ia kurang bertanggung jawab dalam memakai uang. Jangan sampai Anda sebagai pasangan kelak menanggung akibatnya.

Kebiasaan berutang

Cermati apakah pasangan Anda punya kebiasaan meminjam uang kepada orang lain untuk memenuhi keinginannya.

Andre, 30, mengungkapkan, “Mantan pacar saya dulu sering  meminjam uang pada saya dan teman-teman lainnya namun tidak pernah dikembalikan. Yang menjengkelkan, dia mengatakan butuh uang untuk keperluan berobat orangtuanya, namun ternyata digunakan untuk memenuhi lifestyle-nya.” 

Kebiasaan berutang bisa berakar dari  ketidakmampuan mengelola uang serta mengendalikan keinginan. Jika pasangan Anda menunjukkan perilaku ini, sebaiknya bicarakan dengannya atau minta bantuan pihak ketiga seperti perencana keuangan atau mentor yang bisa mencari solusinya.

Tidak bisa mengendalikan emosi

Waspadai seseorang yang tidak mengendalikan diri saat ia merasa marah, sedih, takut, atau pun sering mengalami perubahan emosi secara drastis – ia bisa nampak sangat bahagia satu menit, kemudian sedih di menit berikutnya.

Pasangan yang tidak bisa mengendalikan amarah, misalnya, memiliki kecenderungan untuk menjadi kasar secara verbal atau fisik, bahkan kelak melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Saya kaget karena ia sering membanting barang-barang atau ngebut (jika di dalam mobil) saat kami bertengkar,” kata Mia, tentang mantan kekasih yang diputuskannya.

Menurutnya, tanda-tanda perilaku abusive tersebut makin kuat karena pria tersebut juga mudah cemburu dan sering merendahkan atau mengintimidasinya dengan kata-kata.

Berbeda dengan perilaku abusive, perubahan emosi yang ekstrim alias mood swings bisa merupakan ciri gangguan bipolar – atau yang dulu disebut manic-depressive.

“Gangguan mood adalah kondisi medis yang mempengaruhi mood dan apa yang kita rasakan, dan semua gangguan tersebut berhubungan dengan perubahan kimiawi di otak,” jelas Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, Kepala Satuan Medis Fungsional Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor.

Psikiater yang aktif menulis blog ini mengatakan bahwa pada tahap tertentu gangguan tersebut dapat mengganggu fungsi sehari-hari, sehingga perlu ditangani dengan bantuan medis.

“Saat sedang depresi (sedih), gejala yang terberat adalah resiko melakukan perilaku bunuh diri. Sedangkan saat manic (bahagia), yang terberat adalah perilaku beresiko yang bisa mengganggu dalam pekerjaan, relasi sosial dan masyarakat,” ujar Lahargo.

Memiliki tujuan berbeda dalam hidup

Saling mengimbangi merupakan salah satu resep langgeng  pernikahan. Pasangan yang awet menikah biasanya memiliki tujuan yang sama dalam hidup, entah itu keinginan untuk mempunyai bisnis bersama, menghabiskan masa tua di luar negeri dan sebagainya.

Ketika suami atau istri tidak dapat mengimbangi kemajuan pasangannya, maka akan timbul jurang komunikasi, rasa tidak percaya diri, hingga iri hati.

Rani, seorang ibu dua anak, bisa digambarkan sebagai perempuan mandiri yang berprestasi. Ia mengejar beasiswa  ke luar negeri, bahkan menjadi breadwinner bagi keluarganya. Meski demikian, si suami tidak pernah mendukung segala tindakannya.

“(Semenjak pacaran) saya mendorong dia untuk  kuliah lagi, tapi dia nggak pernah mau. Dia bilang hanya buang-buang uang dan waktu. Padahal saya ingin bisa sama-sama maju untuk masa depan bersama yang lebih baik,” keluhnya.

Setelah mengetahui bahwa suaminya berselingkuh, wanita berusia 37 tahun tersebut akhirnya  memutuskan untuk bercerai dan membesarkan anak-anaknya sendiri.

Baca juga: Nasehat yang Saya Harap Dulu Dengar di Usia 20an

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×