​Temukan Kebocoran dalam Pengeluaran Anda


Kita sering menyalahkan gaji yang menyebabkan kita kekurangan tabungan dan investasi. “Gaji saya terlalu kecil” adalah kalimat yang paling sering kita lontarkan, tidak peduli berapa jumlah penghasilan kita.

Kenyataannya, kebiasaan belanja kita seringkali menjadi biang keladinya.

Berikut ini hal-hal yang sering menyebabkan kebocoran keuangan kita, dan beberapa solusi untuk “menambal”nya.

Si Pecandu Kopi

kopi bisa membuat Anda borosAyomi, 28, sudah menganggap coffee shop seperti rumah keduanya. Ia harus minum kopi dua kali sehari, satu di pagi hari dan sisanya di tengah hari saat ia punya waktu luang.

“Saya memang gila minum kopi,” kata Ayomi.

Setiap menikmati secangkir cappuccino di coffee shop, ia paling sedikit menghabiskan uang Rp30.000. Kebiasaan tersebut belum termasuk bila ia menemukan aktivitas yang menurutnya akan terasa lebih pas jika dilakukan sambil minum kopi di coffee shop.

“Misalnya saya habis beli buku, kayaknya enak nih sambil minum kopi. Maka saya pergi ke coffee shop untuk baca buku,” jelasnya.

Setelah dihitung-hitung, ia mengaku terkejut saat mengetahui kalau ia menghabiskan sedikitnya Rp900.000 dalam sebulan hanya untuk kopi.

Cara menambal kebocoran uang: Ayomi tidak perlu berhenti minum kopi sama sekali. Ia bisa menetapkan anggaran untuk minum kopi dan membeli kartu keanggotaan yang bisa diisi ulang, misalnya kartu Starbucks. Selain bisa mendeteksi pengeluarannya, metode ini juga bisa mengurangi kebiasaan minum kopinya.

Tukang Jajan di Minimarket

minimarket bisa jadi sumber kebocoran uangJalan-jalan ke minimarket yang berhiaskan berbagai rak penuh dengan kemasan dan cemilan enak adalah godaan terbesar bagi anak kecil.

Maya, 30, mengaku sering melebihi anggaran ketika pergi berbelanja dengan anaknya yang berusia lima tahun. “Ketika belanja di minimarket, dia selalu minta beli (coklat impor) KinderJoy. Itu kan nggak murah,” ungkapnya. Selain itu, setiap kali ikut ke minimarket, ia selalu minta dibelikan buku mewarnai.

Cara menambal kebocoran uang: Buat jadwal kunjungan ke minimarket, entah sendiri atau bersama anak, misalnya satu kali seminggu. Saat bersama anak, beri jatah “uang belanja” yang bisa ia habiskan setiap pergi ke minimarket, misalnya Rp20.000. Minta dia memikirkan apa yang ingin dibeli sebelum pergi ke minimarket.

Untuk mencegah diri Anda sendiri belanja di luar batas, bawalah daftar belanja (dan patuhi dengan ketat!), uang tunai secukupnya, sambil meninggalkan kartu debit di rumah.

Si Penggemar Diskon

Rizky, 30, bisa lepas kendali kalau melihat diskon dan promosi. Menurut pengakuannya, “Saya merasa sayang kalau nggak beli barang yang lagi diskon atau promo.”

Hal ini tak hanya terjadi saat ia jalan-jalan di mal, tapi juga saat ia berbelanja di supermarket. Jika saat belanja Rizky melihat diskon atau promosi untuk makanan dan peralatan mandi, ia merasa ada suatu “keharusan untuk membeli”, meski sebenarnya ia tidak terlalu membutuhkan barang tersebut.

“Saya pernah pagi-pagi datang ke sebuah toko yang menyediakan diskon untuk 20 pengunjung pertama, padahal saya sudah punya empat barang yang sama di rumah,” jelasnya.

Dalam sebulan, dia mengaku setidaknya menghabiskan minimal Rp700.000 untuk memenuhi hasrat untuk membeli barang diskon tersebut. “Saya sudah menahan diri untuk membeli barang-barang tersebut. Tapi masih belum bisa maksimal,” kata pria yang berprofesi sebagai karyawan ini.

Cara menambal kebocoran uang: Hindari pergi ke mal atau supermarket saat akhir bulan, karena ini biasanya saat toko-toko menawarkan diskon dan promosi. Selain itu, tanyakan diri sendiri, “Apakah barang ini akan kubeli kalau tidak diskon?” Jika jawabannya “tidak”, maka Anda perlu merelakan barang tersebut, tidak peduli seberapa besar diskonnya.

[Lihat video: Kendalikan Pengeluaran Anda Saat Belanja di Supermarket]

Jika masalahnya adalah perasaan tertinggal atau kehilangan sesuatu, maka Anda mungkin punya sifat kompetitif. Itu bukan sesuatu yang buruk, kok! Salurkan sifat kompetitif tersebut kepada sesuatu yang lebih produktif, misalnya belajar keterampilan baru atau berkompetisi lewat olahraga.

'Kebocoran' Pengeluaran Terbesar

Meski hal-hal di atas bisa mengganggu keuangan kita, ada satu "kebocoran" yang bisa lebih memengaruhi kestabilan keuangan kita. Hal tersebut tak lain adalah biaya bunga kartu kredit

Lina, 33, yang sudah mempertahankan bunga kartu kredit seperti BFF-nya selama 3 tahun terakhir, berusaha mengelak,

"Tapi... jumlah ini kecil dibandingkan pengeluaran saya, Masa sih bunga 2,9% akan merugikan saya?"

Kerugiannya datang dari bunga 2,9% yang dikenakan per bulan. Bunga ini kemudian dibungakan lagi, yang artinya dihitung dari jumlah total pinjaman plus bunga. Jadi jika pengguna kartu kredit hanya membayar sejumlah pembayaran minimum, bunga 2,9% akan dikenakan pada nominal yang kian bertambah dari bulan ke bulan.

Dalam satu tahun, si "bunga kecil" sebesar 2,9% ini menjadi "bencana besar" sebesar 40%! 

Cara menambal kebocoran uang: Jangan tinggalkan sisa pinjaman di kartu kredit Anda. Selalu bayar secara penuh setiap bulan.

Baca juga: 4 Tips Melakukan Negosiasi Pembayaran Utang Kartu Kredit 

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×