Hal yang Saya Pelajari Ketika Berinvestasi Emas


“Don’t put all your eggs in one basket.”

Sebuah nasihat yang saya ikuti sejak saya mulai berinvestasi bertahun-tahun yang lalu. Untuk menambah ragam portfolio investasi, saya memilih emas sebagai salah satu instrumen investasi, karena orang sering bilang bahwa berinvestasi emas tidak ada ruginya.

Setelah beberapa tahun berinvestasi emas, berikut beberapa hal yang saya pelajari mengenai emas sebagai sarana investasi:

Harga emas fluktuatif seperti instrumen investasi lain

Tidak seperti kata teman-teman yang meyakini bahwa emas adalah sebuah instrumen investasi dengan nilai yang stabil dan cenderung selalu meningkat, pada kenyataannya harga emas juga mengalami fluktuasi layaknya harga saham atau instrumen investasi lain.

Berikut perbandingan grafik antara pergerakan harga emas dengan pergerakan harga saham dari tahun 2000-2015:

Harga emas Jan 2000-2015

Indeks harga saham Indonesia

Volatilitas inilah yang dirasakan juga oleh Pungky, seorang karyawan swasta, ketika ia berinvestasi emas, “Dari pertama beli emas sekitar enam tahun yang lalu sampai kujual kemarin, aku cuma untung kurang dari 10%. Awalnya kukira akan mendapatkan sebuah instrumen investasi yang tidak akan turun harganya, tetapi ternyata emas juga mengalami harga yang naik turun.”

Kerugian karena perbedaan harga jual dan beli

Satu hal penting yang saya ketahui ketika membeli emas ialah adanya perbedaan harga beli dan harga jual di saat yang bersamaan. Ketika membeli emas berupa logam mulia (LM) di sebuah toko emas, pada waktu yang sama ketika emas telah dibeli, harga jual di toko tersebut akan mengalami penurunan sekitar 1%-3% per gram. Misalnya, jika Anda membeli 1 gram emas senilai Rp 500.000, maka ketika Anda ingin menjualnya kembali pada hari yang sama, emas tersebut akan dihargai sekitar Rp 495.000.

Oleh karena itu, Anda perlu memastikan harga emas pada hari Anda bermaksud menjual lebih tinggi dibandingkan harga ketika Anda membelinya. Untuk mengetahui harga emas hari ini, Anda bisa melihat informasi yang tersedia di forum LiveOlive.

[Lihat video: Ep 60: Langkah Mudah Membeli Emas]

Biaya dan resiko penyimpanan

Emas adalah investasi yang berbentuk barang, karena itu kita perlu senantiasa memikirkan cara penyimpanan dan fasilitas yang akan digunakan untuk menyimpannya. Menyimpan emas di rumah cukup beresiko, karena terancam hilang, dicuri, atau musnah dalam kebakaran.

Sebagai alternatif, Anda bisa menyimpan emas di safe deposit box yang tersedia di bank dan PT Pegadaian. Berhubung dua pilihan ini memakan biaya, Anda perlu menghitung pengeluaran ekstra yang akan dikeluarkan saat memutuskan untuk berinvestasi emas.

Sebagai contohnya, harga penyewaan safe deposit box Bank Mandiri berukuran 12,5x12,5x60 cm mencapai Rp 200.000 per tahun, ditambah biaya jaminan kunci sebesar Rp 750.000. Ada juga jasa penitipan emas di Pegadaian yang biayanya berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 200.000, tergantung dari berat emas.

Pembelian volume besar vs. kecil

Saat membeli emas, semakin besar gramnya, semakin murah pula harga emas per gram yang didapat. Namun, tentunya dana yang dibutuhkan tidak sedikit dan sebagian orang perlu mengumpulkan dana selama beberapa bulan sebelum akhirnya bisa membeli dalam gram besar.

“Tetanggaku memilih untuk beli emas setiap 100 gram karena ia bisa hemat cukup lumayan. Kalau aku sendiri lebih memilih beli per 10 gram karena waktu untuk mengumpulkan uangnya cukup lama kalau mau langsung beli 100 gram. Takut malah terpakai untuk keperluan yang lain,” kata Pungky

Perlu diingat, penjualan emas ukuran besar tidak akan semudah menjual emas dalam ukuran kecil, karena permintaan untuk emas batangan juga tidak sebanyak permintaan emas ukuran kecil.

Baca juga: Bagaimana Anda Memanfaatkan Fasilitas Pegadaian

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×