Bekerja Sebagai Uber Driver: Biaya dan Penghasilan yang Didapat


Uber, transportasi on-demand berbasis aplikasi asal San Fransisco, adalah sebuah fenomena yang kontroversial namun makin populer digunakan orang.

Berawal dari visi dua pendirinya yang menginginkan akses transportasi instan dalam genggaman tangan, Uber – sering juga disebut Uber taxi atau taksi Uber – memungkinkan siapa saja yang mempunyai mobil menjadi supir pribadi dan menjemput penumpang layaknya taksi.

Berkat ekspansi agresif Uber selama tujuh tahun, layanannya kini bisa digunakan di lebih dari 66 negara dan 300 kota di seluruh dunia. Keberadaannya di Jakarta mulai dikenal dua tahun lalu, kemudian menyebar ke kota-kota besar lain seperti Bandung, Denpasar, dan Surabaya.

Dengan bertambahnya permintaan konsumen, Uber kian gencar menjaring orang baru untuk menjadi supir Uber (Uber driver). Lalu, seberapa menguntungkan sih bekerja untuk Uber?

Potensi Penghasilan Uber Driver

Dari mahasiswa, mantan tukang ojek, pengusaha, hingga pelatih olahraga, Uber driver berasal dari latar belakang pendidikan dan sosial yang berbeda.

Iwan Zainuri adalah salah satu orang yang memutuskan untuk bekerja ­full-time sebagai Uber driver setelah merasa nyaman dengan ritme kerjanya. Pria berusia 30an ini sempat bekerja sebagai pengemudi ojek online selama setahun, hingga ia mendengar tentang Uber. Ia pun memutuskan untuk mencicil sebuah mobil LCGC Daihatsu Ayla dan menjadi Uber driver.

“Kalau nyetir motor itu saya nggak kuat anginnya. Saya senang kerja di Uber karena lebih nggak capek dan penumpangnya lebih selektif,” katanya.

Meski baru terhitung seminggu bergabung di Uber, Iwan sudah fasih mengemudikan mobil berkat panduan GPS. Setiap harinya, ia mengaku bisa mendapatkan sekitar 7-8 penumpang.

Sama seperti Iwan, Ferry juga seorang Uber driver yang pernah menjadi pengemudi ojek online. Ia kini menggunakan Toyota Rush SUV pemberian orang tuanya untuk mengantar penumpang.

“Dalam sebulan, bisa dapat Rp 6 juta-Rp 7 juta, dan itu sudah termasuk biaya bensin dan perawatan mobil. Tapi itu juga tergantung rajin atau nggak terima pesanan,” katanya.

Fandy, 27, seorang supir Uber paruh waktu mengaku bisa mengantongi Rp 200.000 sehari atau sekitar Rp 6 juta per bulan. Kini, ia dan saudaranya memulai usaha penyewaan mobil bekerja sama dengan Uber, sehingga mobil yang mereka miliki bisa disewakan ke supir Uber lain yang tidak memiliki mobil.

Gaji bersih supir pribadi di Jakarta mencapai sekitar Rp 4 juta-Rp 5 juta per bulan, dengan jam kerja 40 jam seminggu seperti karyawan pada umumnya, dan terkadang dibutuhkan untuk lembur di akhir minggu. Meski begitu, supir pribadi hanya perlu memiliki SIM A, referensi baik, serta pengetahuan jalan untuk bisa mulai bekerja.

“Salah satu hambatan (bagi orang yang ingin menjadi Uber driver) yang sering ditemui di Indonesia adalah mereka tidak punya mobil,” kata Alan Jiang, Uber International Launcher, dalam sebuah event di Jakarta.

[Baca: Perkiraan Biaya Perawatan Mobil Anda]

Pengeluaran yang Ditanggung Uber Driver

Berhubung pengemudi Uber menggunakan mobil pribadi, bisa dibilang modal awal yang harus dimiliki jika ingin bergabung dengan perusahaan transportasi berplat hitam ini adalah sebuah mobil.

“Saat mendaftar, (Uber) pasti akan memeriksa kondisi mobil,” kata Iwan.

Rata-rata mobil yang memenuhi syarat adalah mobil berumur sepuluh tahun atau lebih baru. Jenis mobil yang Anda miliki akan menentukan apakah Anda termasuk dalam kategori “UberX” atau “UberBLACK”, misalnya Toyota Avanza, Daihatsu Ayla, Honda Jazz termasuk UberX, sementara Honda CRV, Nissan Juke, atau sedan termasuk UberBLACK. Singkatnya, UberX menerapkan harga sekitar 37% lebih murah dari taksi, sementara UberBLACK menerapkan harga premium, atau lebih mahal sekitar 15% dari argo taksi biasa.

[Kuis: Apakah Anda Siap untuk Membeli Mobil?]

Jika Anda tidak memiliki mobil, menyewa dari perusahaan penyewaan mobil yang bekerja sama dengan Uber bisa jadi alternatif, namun tentunya ada pembagian hasil yang membuat porsi penghasilan lebih besar masuk ke perusahaan rental tersebut – berhubung mereka yang mendapat ijin dari Uber dan membayar biaya perawatan mobil.

Contohnya Adi yang menyewa mobil dari kakaknya dengan sistem bagi hasil 40:60. Jika dalam sebulan ia memperoleh Rp 6 juta, maka ia hanya mendapatkan Rp 2,4 juta.

Uber juga memberikan program cicilan untuk pembelian smartphone. Tidak menutup kemungkinan bahwa di waktu mendatang Uber akan memberikan program cicilan mobil di Indonesia.

Sama seperti kebanyakan supir taksi, Uber driver menanggung sendiri biaya bensin sesuai penggunaan mereka. Jumlahnya bervariasi, dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Selain itu, segala biaya perawatan, perbaikan mobil dan pajak menjadi tanggung jawab Uber driver. Seperti yang dikatakan Alan, partner Uber bertanggung jawab untuk memenuhi pajak penghasilan mereka sendiri.

Dalam kasus tertentu, misalnya jika terjadi kecelakaan atau urusan dengan pihak berwenang, Uber mempunyai asuransi yang akan mengganti sebagian atau seluruh kerugian.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×