Untung vs. Rugi di Balik Kegiatan Arisan


Arisan adalah kegiatan sosial yang sudah cukup dikenal di Indonesia. Jika harus didefinisikan, ini merupakan kelompok orang yang mengumpulkan uang secara teratur selama periode tertentu. Sebagai contoh, kegiatan arisan yang dilakukan di kantor dan di lingkungan tempat tinggal sekitar. Setelah uang terkumpul, salah satu dari anggota kelompok akan ditentukan sebagai "pemenang". Penentuan pemenang biasanya dilakukan dengan jalan pengundian – meski ada juga kelompok arisan yang menentukan pemenang dengan perjanjian. Hal ini akan diulang di bulan berikutnya, hingga semua anggota dapat bagian sebagai pemenang arisan.

Coba simak beberapa kelebihan dan kekurangan kegiatan arisan, berdasarkan jenis arisan dan pengalaman beberapa orang yang pernah mengikutinya:

1. Arisan Uang

Lina, 66, ikut arisan uang secara aktif dengan menyetor iuran Rp 100.000 per bulan. Anggota kelompok arisan yang ia ikuti berasal dari ibu-ibu paruh baya di lingkungan RT tempat tinggalnya, jumlahnya sekitar 42 orang. Setiap bulan, mereka melakukan pengundian untuk mengambil 3 orang pemenang, dimana masing-masing orang akan memperoleh Rp 1,4 juta.

Sementara itu, Idi, 42, ikut arisan lebih karena terpaksa untuk memenuhi kewajiban komunitas saja. Menurutnya, ikut arisan itu rugi, karena wajib setor tiap bulan tapi tidak ada bunganya. Saat ini ia ikut arisan wajib dengan iuran Rp 50.000 per bulan, dimana jumlah yang didapatkan adalah sebesar Rp 550.000 per putaran.

[Baca: Cara Mengakali Diri Sendiri untuk Menabung]

2. Arisan Barang

Menyadari bahwa arisan uang tidak  menghasilkan bunga layaknya tabungan, beberapa komunitas arisan memilih untuk melakukan arisan barang – dengan jenis item yang bervariasi, sesuai kebutuhan dan minat anggota komunitas tersebut.

Dessy Natalia Engel, 26, ikut arisan buku balita dengan iuran Rp 200.000 selama 10 bulan. Pada saat mendapat giliran, ia akan dapat satu paket buku anak yang terdiri dari 25 buku balita, 1 buku petunjuk orangtua, 3 boneka tangan, 1 souvenir, dan 1 voucher permainan. Ia mengikuti arisan tersebut karena kalau beli sendiri harganya sangat mahal, sedangkan dengan arisan ini ia bisa memperoleh diskon besar.

Dee, seorang lifestyle blogger, 24, ikut arisan barang berupa logam mulia. Dengan iuran bulanan, dalam satu periode ada 5 orang peserta, jadi setiap 5 bulan sekali dapat logam mulia dengan jumlah gram tertentu sesuai kesepakatan di awal arisan. Menurutnya, ia termasuk individu yang malas ikut arisan berupa uang karena biasanya cepat habis untuk kumpul-kumpul saja. Ia memilih ikut arisan emas karena nilai uang pasti turun setiap tahun, sementara nilai emas bisa naik. Arisan emas ini dilakukan secara online melalui grup messenger WhatsApp, sehingga lebih efektif dan efisien karena memang tujuannya murni untuk investasi.

Senada dengan Dee, Eni Martini juga mengikuti arisan emas dengan iuran fluktuatif mengikuti harga emas saat itu. Baginya, mengikuti arisan ini menguntungkan, karena jadi punya simpanan investasi sekaligus bertukar kabar dengan sesama anggota yang sudah saling kenal. Menurutnya, uang Rp 500.000-Rp 600.000 sebulan bisa hilang dibelanjakan, tetapi dengan ikut arisan ini bisa jadi investasi dalam bentuk emas.

Aprillia Ekasari, 31, memilih ikut arisan barang seperti kosmetik, peralatan dapur, dan mesin jahit. Alasannya, dengan mengikuti arisan ia bisa memiliki barang mahal dengan cara menyicil tanpa harus kredit yang mengandung riba.

Begitu pun dengan Eka Putri, 30, yang mengikuti arisan barang dengan iuran Rp 20.000 per minggu, dan mendapatkan hasil Rp 1,2 juta dalam bentuk barang kebutuhan rumah tangga – dari mulai karpet, lemari, satu set piring, dan sebagainya. Ia mengikuti arisan ini karena merasa tidak mampu menabung secara konsisten untuk memperoleh barang-barang rumah tangga tersebut.

3. Arisan Jasa

Anastasya Bee, 38, ikut arisan bukan berupa uang atau barang, melainkan jasa yang tergolong unik, yakni berupa steril kucing-kucing liar yang selama ini diberi makan oleh para peserta arisan di lingkungan tempat tinggalnya. Tujuan dari steril itu sendiri untuk mencegah peningkatan populasi kucing.

“Karena nggak semua orang suka kucing, jika dalam sebuah lingkungan populasi kucing terlalu banyak, mereka dianggap mengganggu sehingga animal abuse meningkat,” jelasnya.

Ketika peserta mendapat arisan, maka uangnya akan digunakan untuk membayar biaya steril di klinik hewan atau pet shop yang bekerja sama dengan peserta arisan. Iurannya Rp 20.000 per lot (orang); jika dalam satu grup ada 10 lot, maka saat memperoleh arisan peserta akan terima uang Rp 200.000.

Sementara itu, biaya steril untuk kucing betina mencapai Rp 175.000 dan kucing jantan Rp 125.000. Sisa dari uang arisan akan dikumpulkan untuk membeli makanan kucing, bekerja sama dengan pet shop untuk mendapatkan harga murah.

Sebagai penyayang binatang, Anastasya mengikuti arisan ini untuk membantu mengurangi kekerasan pada binatang, serta meningkatkan kesejahteraan kucing-kucing liar. Dengan jumlah yang terkontrol, kompetisi mereka untuk berebut mencari makanan dan pasangan akan semakin berkurang. Selain melakukan kontrol populasi, komunitas arisan juga bisa menyalurkan kucing liar kepada keluarga pecinta binatang yang ingin mengadopsi binatang peliharaan.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×