Bagaimana Saya Bisa Mengenali Penipuan (Scam)?


Saat Anda mulai menyadari akan pentingnya investasi, Anda akan dihadapkan pada beberapa pilihan sesuai dengan jumlah dana yang tersedia. Tujuan investasi itu sendiri adalah mendapatkan keuntungan di masa depan, atau memperoleh pendapatan berkala dari dana awal yang Anda tanamkan.

Beberapa orang berusaha memaksimalkan imbal hasil investasi dengan mengambil jenis investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi – meski tidak sepenuhnya mengerti bahwa mereka juga tengah menanggung resiko yang tinggi. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menipu.

Penipuan investasi terjadi saat investasi yang ditanamkan tidak memberikan keuntungan ataupun pendapatan rutin, melainkan mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh dana investasi awal, karena adanya rencana yang dengan sengaja digunakan untuk menipu atau menyesatkan investor.

Ciri-ciri Penipuan Investasi

Meski kita tahu bahwa investasi membawa resiko, kita perlu melindungi diri dari “janji-janji palsu” yang ditawarkan seseorang. Bisnis apa pun pasti mengalami naik dan turun, sehingga tidak mungkin bisa menjamin keuntungan yang akan diberikan, apalagi kepada banyak investor dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Anda perlu waspada saat seseorang berani menawarkan keuntungan pasti.

[Coba kuis ini: Uji Pengetahuan Anda Seputar Uang]

Saat ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hanya menjamin tabungan, giro, dan deposito hingga jumlah tertentu, yakni maksimal Rp 2 miliar per nasabah per bank.

Ciri-ciri lain yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Tidak terdaftar sebagai perusahaan investasi
  • Menawarkan imbal hasil (return) yang tinggi dalam jangka pendek
  • Meminta keputusan secara cepat, misalnya saat acara seminar investasi
  • Mengharuskan anggota membayar untuk bergabung, kemudian mencari anggota lain
  • Informasi yang tersedia tidak lengkap.

Beberapa Tipe Penipuan

1. Penipuan Skema Piramida

Penipuan investasi yang satu ini berdasarkan hierarki atau urutan, dimulai dari satu atau sedikit orang yang akan berada pada puncak piramida.

Skema ini biasanya berdasarkan uang (money game), sehingga tidak ada bisnis yang menghasilkan, produk yang dijual, servis yang diberikan dan investasi yang dijalankan. Keuntungan baru diperoleh dari anggota baru yang harus membayar sebagian ke anggota yang lebih lama di atasnya.

Ini termasuk penipuan, karena skema perekrutan ini tidak bisa berlangsung selamanya. Ada masa dimana perekrutan akan jenuh dan anggota baru di dasar piramida akan kehilangan semua investasinya. Contoh yang paling mudah ditemukan adalah dari perusahaan berkedok multi-level marketing yang menjual produk mahal tanpa manfaat jelas.

2. Penipuan Skema Ponzi

Dalam skema Ponzi, investor biasanya dijanjikan keuntungan tinggi dengan resiko rendah. Sama seperti sistem piramida, skema Ponzi membayarkan imbal hasil ke investor lama dari uang yang dibayarkan oleh investor baru, bukan dari keuntungan bisnis. Bedanya, sistem ini mendapatkan uang dari semua investor, lalu mendistribusikannya.

Pada akhirnya, model investasi seperti ini akan runtuh saat sudah sampai ke titik dimana perusahaan susah untuk merekrut anggota baru atau ketika sejumlah besar investor ingin meminta imbal hasil dana mereka secara bersamaan.

3. Penipuan High Yield Investment (HYI)

Skema ini menawarkan return yang tinggi atau sangat tinggi dari modal yang diinvestasikan. Terkadang investasi yang ditawarkan memang benar-benar ada, tapi tidak mampu membayar tingkat return seperti yang dijanjikan.Biasanya skema investasi ini akan mirip dengan Skema Ponzi dimana uang akan dikuasai pendirinya.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×