8 Penyakit Modern yang Lebih Mengancam Dibandingkan Satu Dekade Lalu


Segala kemajuan teknologi dan informasi telah mempermudah kehidupan dan memberi kita beragam pilihan. Di sisi lain, perkembangan tersebut juga memengaruhi gaya hidup serta pola makan sehari-hari – misalnya semakin banyaknya pilihan junk food, atau teknologi yang tidak membutuhkan banyak aktifitas gerak.

Lama-kelamaan, orang pun dihadapkan pada risiko-risiko penyakit yang jarang atau tidak dikenal satu dekade lalu. Untuk mencegahnya, waspadai beberapa gejala penyakit berikut:

1. Kekurangan Vitamin D

Dengan adanya puluhan hingga ratusan mal yang tersebar terutama di kota-kota besar, orang Indonesia kini makin menggemari kegiatan indoor yang tidak terpapar sinar matahari. Hal ini diperburuk oleh kurangnya jumlah taman kota dan aktifitas umum yang mendorong orang keluar rumah selain di hari Minggu saat car free day berlangsung.

Apabila Anda termasuk jarang beraktifitas di luar, kelebihan berat badan, atau memiliki pigmen kulit yang gelap, Anda bisa jadi berisiko kekurangan vitamin D (vitamin D deficiency). Selain itu, vegetarian juga memiliki kemungkinan kekurangan vitamin D, karena vitamin ini hanya terkandung dalam beberapa ikan – salmon, tuna, tenggiri – atau minyak hati ikan Cod (cod liver oil), susu, hati sapi, serta kuning telur.

Defisiensi Vitamin D ini bisa memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker, penyakit kardiovaskular (CVD), osteoarthritis, osteoporosis, penyakit autoimun, depresi, dan sebagainya. Penelitian juga menunjukkan bahwa vitamin D dapat membantu pencegahan dan pengobatan diabetes tipe 1 dan 2, hipertensi, dan multiple sclerosis. Karena itu, pastikan kebutuhan vitamin D Anda tetap tercukupi, bahkan hingga Anda berusia 60 tahun ke atas, dengan cara keluar untuk menyambut matahari pagi dan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti disebutkan di atas. Bagi para vegan, tersedia juga suplemen dengan kandungan vitamin D maksimum 2000 IU per hari.

2. Insomnia

Insomnia merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau sulit memperoleh waktu tidur yang berkualitas. Gejala yang sering ditemui biasanya susah tidur, sering terbangun di malam hari, serta merasa lelah saat bangun tidur dan mengantuk atau sulit berkonsetrasi di siang hari.

Menurut beberapa sumber, insomnia bisa disebabkan berbagai hal – mulai dari gaya hidup dan kenyamanan ruangan kamar, hingga faktor kesehatan psikologi, fisik, dan efek samping obat-obatan. Sebagai contoh, seseorang bisa saja memiliki kesulitan tidur karena penyakit asma, tulang punggung, atau depresi yang dideritanya.

Di era berteknologi maju seperti sekarang, banyak kondisi insomnia yang dipicu atau diakibatkan oleh kebiasaan tidur yang salah dan tidak ditangani secara serius.

Jika Anda sering mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, jangan ragu untuk menemui dokter ahli. Saat ini sudah tersedia banyak alat yang bisa merekam waktu dan kualitas tidur seseorang, sehingga akan memudahkan dokter untuk melakukan analisa dan tes fisik. Obat tidur memang mudah ditemukan dan bisa memberi efek instan, namun sebaiknya digunakan sebagai cara terakhir, karena tidak boleh digunakan secara rutin dan akan menimbulkan efek ketergantungan.

3. Carpal Tunnel Syndrome

Apabila Anda sering merasakan mati rasa, kesemutan, atau nyeri pada bagian tangan Anda, jangan abaikan begitu saja. Bagian yang biasanya terpengaruh adalah jempol, jari tengah, serta telunjuk. Penyakit yang baru diketahui dalam sepuluh tahun terakhir ini terjadi karena terjadi pembengkakan pada bagian saraf, tendon, atau keduanya, yang menyebabkan saraf median pada lorong karpal ( carpal tunnel) terhimpit sehingga menimbulkan rasa sakit tersebut.

Menurut beberapa sumber, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita carpal tunnel syndrome (CTS) ini, diantaranya kehamilan, cedera pada pergelangan tangan, ataupun pergerakan tangan yang berulang-ulang – seperti mengetik dalam waktu lama, entah itu mengetik dengan sepuluh jari di komputer atau dengan dua jempol di layar HP. Orang yang menderita penyakit arthritis dan diabetes juga berisiko mengalami CTS.

Jika Anda mengalami gejala serupa, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan beberapa tes. Pada beberapa orang, misalnya ibu hamil, CTS akan membaik dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan selain mengistirahatkan tangan dan mengurangi stres pada jari-jari dan pergelangan tangan. Namun, jika kondisi tersebut tak kunjung membaik, penderita CTS bisa melakukan operasi untuk menghindari kerusakan otot permanen.

4. Kerusakan Pendengaran (Hearing Loss)

Saat berada di ruang publik seperti lounge bandara, stasiun bis atau gym, kita sering melihat orang-orang menjadi “tuli” karena tengah mendengarkan musik lewat earphones dengan volume yang terlampau kencang.

Penggunaan earphones, earbuds, dan sejenisnya memang dikhawatirkan bisa memengaruhi kondisi pendengaran penggunanya yang terlalu sering mendengarkan musik dengan volume tinggi.

Dengan banyaknya gadget yang beredar di pasaran, kita tidak mungkin terlepas dari alat yang satu ini. Pastikan saja Anda tidak memasang volume audio diatas 85 dB dan mengambil jeda untuk melepas earphones Anda dari waktu ke waktu. Sebagai patokan, bunyi mesin penyedot debu dan restoran yang ramai mencapai sekitar 85 dB.

5. Spot baldness (alopecia areata)

Penyakit rambut rontok ini terkesan sepele, namun sangat mengganggu penampilan – terutama jika terjadi pada wanita. Penyebab pasti alopecia areata alias spot baldness belum diketahui, namun beberapa mencurigai stres dan penggunaan bahan kimia pada rambut sebagai pemicunya. Selain itu, ada akar rambut yang tidak kuat menopang rambut panjang, sehingga rontok dan menjadi botak.

Alopecia areata termasuk penyakit autoimun yang tidak berhubungan dengan saraf dan tidak menular seperti halnya kurap. Biasanya, rambut akan mengalami kerontokan secara tiba-tiba pada bagian-bagian kecil di kepala, meski kulit kepala tetap terlihat normal.

Beberapa solusi yang bisa dicoba untuk mengatasi hal ini ialah memotong rambut menjadi pendek, mengurangi stres dengan olahraga yang menenangkan – misalnya yoga dan berenang, mempertahankan pola makan sehat, serta menghindari perawatan rambut di salon.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×