Tips Berlibur ke Jepang untuk Pemula


Jika Anda punya setidaknya 12 hari cuti dalam setahun, manfaatkanlah untuk traveling alias jalan-jalan ke negara yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya. Tidak hanya menyenangkan hati, traveling juga memiliki efek positif bagi kesehatan pribadi, hubungan, kinerja bisnis, serta kesejahteraan komunitas.

Menurut riset yang dilakukan US Travel Association selama beberapa tahun, karyawan yang mengambil waktu untuk rehat terbukti lebih produktif, memiliki moral yang lebih tinggi, dan lebih jarang kehilangan fokus dalam pekerjaan. Selain itu, jalan-jalan juga bisa mengurangi stres dan kelelahan.

Salah satu negara yang sedang digandrungi pelancong Indonesia saat ini adalah Jepang. Negeri “matahari terbit” ini makin membuka diri kepada wisatawan, bahkan memberi bebas visa dengan syarat registrasi pra keberangkatan untuk WNI pemegang e-paspor sejak Desember 2014 lalu.

“Tinggal bawa e-paspor dan selembar form yang sudah dicetak dan diisi,” kata Nuniek Tirta, blogger sekaligus ibu rumah tangga yang mengajukan visa waiver ke Kantor Kedubes Jepang bulan Mei lalu. Selanjutnya, selama 3 tahun ke depan ia tidak perlu melakukan registrasi lagi jika ingin mengunjungi Jepang selama 15 hari.

Lalu, apa saja yang harus dipersiapkan untuk jalan-jalan ke Jepang?

1. Mempelajari Kebiasaan Orang Jepang

Icha Pranatasari, mahasiswi 22 tahun asal Indonesia yang tengah menyelesaikan studi di Jepang, berbagi tentang culture shock yang dialaminya saat pertama kali tiba di Jepang.

“Orang-orang (Jepang) sangat mematuhi dan menghormati peraturan yang ada,” katanya, sambil menjelaskan contoh-contoh yang sering ia temui; mengantri dengan rapi dan tidak memotong antrian, tidak menyeberang jalan saat lampu merah, hingga membuang sampah pada tempat yang seharusnya.

Sebelum pergi, biasakan untuk melatih disiplin sehingga Anda tidak merasa canggung saat di sana. Meski kelihatan sepele, hal-hal tersebut bisa membuat Anda tidak sabar karena tidak terbiasa melakukannya.

“Hampir semuanya terasa berbeda, terutama hal-hal yang berkaitan dengan waktu,” kata Icha. “Di sini, Anda akan kaget saat menemukan bahwa semua alat transportasi publik selalu datang dan pergi tepat waktu, misalnya kereta berangkat pada pukul 18.07,” jelasnya.

Jadi, jika jadwal di tiket bus, subway, kereta ekspress shinkansen, atau alat transportasi publik lain yang Anda gunakan tertulis keberangkatan pukul 09.52, itu artinya kendaraan tersebut akan benar-benar berangkat pada waktu itu juga. Kendaraan tersebut juga tidak akan ngetem selama tiga menit hanya untuk pergi pada pukul 09.55.

2. Memilih Waktu Tepat untuk Berkunjung ke Jepang

Musim gugur atau musim semi merupakan waktu yang paling banyak digemari oleh turis, karena di dua musim ini cuacanya tidak begitu dingin atau panas – cocok bagi orang-orang yang terbiasa tinggal di iklim tropis.

Di musim semi, Anda dapat menyaksikan keindahan saat bunga sakura mekar. Ini biasanya terjadi di kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka sekitar akhir Maret hingga pertengahan April, dan berlangsung hingga 14 hari saat cuacanya baik.

Anda juga bisa memilih pergi saat libur anak sekolah, seperti yang dilakukan Nuniek saat libur lebaran tiga minggu lalu. Ia membeli tiket sejak tahun lalu untuk diri sendiri, suami, dan dua orang anak. Dengan budget airline Jakarta-Osaka one way, total biayanya sekitar Rp 7 juta untuk empat penumpang. Jika Anda memilih budget airline, pastikan saja rencana tersebut sudah permanen dan beli asuransi perjalanan jauh-jauh hari, untuk memproteksi seandainya terjadi musibah dan Anda tidak bisa berangkat, selain untuk melindungi selama Anda berada di Jepang.

Bagi pecinta salju yang ingin berkunjung saat musim dingin, misalnya untuk bermain ski atau snowboarding, Anda bisa pergi ke Hokkaido atau Honshu, dua pulau yang terkenal memiliki kondisi salju dan fasilitas resort terbaik di Jepang.

3. Minimalkan Pakaian yang Harus Dibawa

“Kami berangkat pakai budget airline tanpa bagasi, masing-masing membawa koper kabin. Isinya baju untuk (dipakai selama) seminggu,” kata Nuniek.

Beberapa item pakaian seperti jaket, kaus kaki, serta sepatu yang nyaman untuk berjalan sebaiknya disimpan di tas kabin, sehingga Anda tetap punya cadangan pakaian selama pesawat transit di negara lain. Menurut Icha, memakai pakaian berlapis yang mudah untuk dipakai dan dilepaskan bisa sangat membantu untuk beradaptasi terhadap perbedaan suhu udara yang cukup drastis saat berada di dalam dan luar ruangan.

Gunakan sepatu yang praktis dan mudah dipakai, karena di Jepang, Anda akan menghabiskan cukup banyak waktu tanpa menggunakan sepatu, misalnya saat makan di rumah makan tradisional Jepang, mengunjungi kuil, menggunakan toilet umum, dan sebagainya. Jika Anda tidak ingin repot saat melewati mesin body scanners di bandara atau mengganti sepatu saat masuk ke sebuah tempat, gunakan stocking atau kaos kaki dan hindari sepatu bertali.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×