Pengetahuan Seputar Uang yang Sering Disalahartikan Orang


Hampir semua keputusan penting yang kita buat sepanjang hidup berhubungan dengan uang. Begitu juga dengan bermacam-macam aktivitas yang kita lakukan, dari mulai belanja, makan, jalan-jalan, hingga membina hubungan dengan orang lain.

Ada beberapa hal berhubungan dengan uang yang kita dengar dari orang tua, kerabat, teman selama bertahun-tahun lamanya, sehingga tanpa alasan jelas kita percayai dan pegang layaknya sebuah pedoman.

Yuk, kita cek ulang pemahaman kita tentang uang! Dengan begitu, kita pun bisa lebih efektif dalam mengelola uang yang kita dapatkan dengan kerja keras tersebut.

1. Saya perlu punya asuransi jiwa

Memang benar bahwa setiap orang memerlukan asuransi. Tetapi, ada bermacam-macam jenis asuransi yang dibuat sesuai dengan tingkat kehidupan dan kebutuhan seseorang.

Dengan kata lain, Anda perlu memahami manfaat asuransi yang Anda dapatkan sebelum memutuskan membeli. Asuransi jiwa memberikan manfaat kepada ahli waris saat Anda sebagai pemegang polis meninggal dunia. Uang pertanggungan yang diterima kelak bisa digunakan untuk membiayai pemakaman, membayar utang-utang, hingga menyokong biaya hidup orang-orang yang Anda ditinggalkan. Oleh karena itu, asuransi ini sangat penting dimiliki oleh para breadwinner alias pencari nafkah dalam keluarga, terutama para ayah.

Jika Anda belum berkeluarga dan masih aktif bekerja, kesehatan Anda perlu dilindungi oleh asuransi yang akan menjamin keamanan keuangan Anda saat Anda jatuh sakit atau tidak bisa bekerja. Dalam hal ini, asuransi kesehatan dan kecelakaan perlu menjadi pertimbangan Anda.

Sebelum membeli asuransi apa pun, jangan ragu untuk bertanya dan mencari financial consultant atau agen asuransi yang bersedia memudahkan hidup Anda.

2. “Banyak anak banyak rezeki”

Pandangan ini mungkin sesuai diucapkan bila kita tinggal di negara yang berpopulasi rendah dan memberikan insentif untuk membesarkan anak.

Dahulu kala, orang-orang memiliki kepercayaan bahwa memiliki banyak anak akan menjanjikan kehidupan yang mapan di hari tua, karena anak-anak yang dilahirkan kelak diharapkan memelihara orang tua mereka.

Kenyataannya, jumlah populasi di Indonesia kian meningkat – diikuti dengan biaya hidup yang melonjak. Tingginya biaya tempat tinggal, sekolah, dan pelengkap hidup lain membuat pasangan suami-istri harus merencanakan kehamilan mereka secara strategis.

Oleh karena itu, buang jauh-jauh pola pikir yang menganggap anak sebagai “investasi”. Hal terakhir yang Anda inginkan ialah bergantung hidup pada anak-anak Anda dan mengharapkan balas budi mereka dengan cara memenuhi semua kebutuhan hari tua Anda.

Jika Anda dan pasangan memutuskan untuk punya anak, rencanakan sedini mungkin sesuai dengan kondisi keuangan berdua. Meski Anda giat mempersiapkan dana pendidikan anak, jangan abaikan kebutuhan untuk mempersiapkan dana pensiun Anda untuk masa depan. Dengan begitu, Anda pun tidak akan membebani anak dengan masalah keuangan di masa mendatang.

3. Tarik Tunai dari Kartu Kredit

Meski prosedurnya sama seperti menarik uang tunai dari ATM, mengambil uang tunai menggunakan kartu kredit jelas berbeda dengan kartu debit.

Kartu debit mengambil dana dari tabungan yang Anda miliki di bank bersangkutan, sementara kartu kredit meminjamkan dana yang tidak Anda miliki dengan imbalan bunga 2,95%-4% per bulan.

Dalam keadaan terdesak, lebih baik Anda menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran langsung di merchant dan tidak memperlakukannya seperti kartu ATM di dompet Anda.

4. Meminjamkan uang karena tidak enak hati

Mungkin Anda pernah menemukan teman-teman yang menceritakan masalah mereka dan membuat hati tergerak ingin menolong. Tapi, percaya atau tidak, untuk urusan uang, meminjamkan bukan selalu solusi terbaik untuk menolong seseorang.

Bisa saja dengan meminjamkan uang, Anda membuat si teman terlena dan tidak berusaha untuk membenahi pengelolaan keuangannya.

“Anita sering bercerita bahwa kondisinya sedang sulit, terutama setelah bercerai, tapi ternyata ia kehabisan uang untuk pesta dan makan malam mahal dengan teman-temannya,” ungkap Lita, teman sekantor Anita yang menyesal karena telah meminjamkan uangnya.

Singkat cerita, setelah hari gajian tiba, Anita tak kunjung mengembalikan uang yang dipinjamkan kepadanya. Alhasil, Lita pun harus menagih uang tersebut berulang kali hingga lunas terbayar. Hingga kini, hubungan mereka tak bisa lagi sebaik dulu.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×