5 Sumber Pemborosan Uang yang Sering Tidak Disadari


Terkadang, meski Anda sudah membuat anggaran, ada saja sesuatu yang membuat pengeluaran membengkak secara tak terduga.

Memang mudah merasa boros saat Anda terlalu sering nongkrong di coffee shop atau pergi makan dan clubbing bersama teman-teman setiap Sabtu dan Minggu, namun kenyataannya ‘kebocoran’ uang tersebut bisa juga bersumber dari hal-hal sepele yang Anda lakukan sehari-hari.

Berikut ini beberapa contoh yang sering kita temukan:

1. Biaya transportasi

Pos pengeluaran yang satu ini biasanya sudah dimasukkan ke dalam perhitungan anggaran, misalnya naik ojek pulang-pergi Rp 50.000 dikali 20 hari kerja dalam sebulan. Tapi, bagaimana dengan akhir minggu dan hari-hari dimana Anda mengambil “jalan pintas” – misalnya, naik Uber atau Grab Taxi karena hujan atau malas naik motor?

Semakin mudahnya akses layanan taksi online memang bisa membuat Anda memilih pergi dan pulang naik kendaraan beroda empat ini, dibandingkan misalnya naik bis atau kereta. Akibatnya, Anda pun mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit.

Untuk mengatasi hal ini, coba hitung perkiraan pengeluaran Anda secara realistis selama 30 hari. Uber dan Grab juga biasanya mengirimkan slip pembayaran di akhir setiap perjalanan, sehingga Anda pun bisa dengan mudah menghitung pengeluaran total Anda selama bulan tertentu. Selain itu, batasi penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran, sehingga Anda bisa lebih mudah mengontrol diri.

Misalnya, jika Anda sudah menyiapkan Rp 200.000 untuk naik kereta selama sebulan, tambahkan perhitungan transportasi saat akhir pekan serta beri cadangan 20% seandainya Anda harus pergi atau pulang naik taksi.

[Baca: Menghemat Transportasi: Beli Motor atau Naik Ojek?]

2. Layanan pesan antar makanan

Setiap orang pasti pernah mengalami sindrom mager alias malas gerak. Biasanya, berhubung Anda tidak ingin melakukan apa-apa selain makan dan beristirahat, Anda jadi menggunakan layanan pesan antar lewat mobile app.

Lagi-lagi, berkat kemudahan teknologi, Anda tinggal memilih menu makanan dari smartphone melalui layanan seperti Go-Jek atau Happy Fresh, kemudian duduk manis menunggu pesanan tersebut diantar.

Selain Anda akan dikenakan biaya antar yang bervariasi tergantung lokasi, antara Rp 5000-Rp 30.000, Anda juga jadi cenderung memesan lebih banyak makanan. Apalagi jika Anda harus memenuhi jumlah minimum pemesanan.

Untuk mengatasinya, biasakan makan secara teratur – sebelum perut terasa lapar. Hindari perut keroncongan, sehingga Anda tidak mudah tergoda untuk membeli lebih banyak makanan. Hal ini juga bisa diterapkan saat Anda berbelanja ke supermarket. Jika Anda bosan makan masakan rumah, tetapkan anggaran untuk food delivery, misalnya Rp 100.000 setiap dua minggu sekali. Membeli bahan makanan yang siap dimasak, seperti yang disediakan Berry Kitchen atau Black Garlic, bisa lebih sehat dan lebih hemat 50% dibandingkan membeli makanan jadi.

3. Apps dan layanan online berbayar

Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk menghitung jumlah layanan online yang Anda bayar setiap bulannya? Dari mulai app untuk membaca buku, majalah, menonton film, mendengarkan musik, hingga fasilitas penyimpanan cloud yang jarang Anda gunakan.

Dengan biaya keanggotaan yang terkesan murah, mulai Rp 5000 hingga diatas Rp 100.000, Anda bisa secara tidak sadar menghabiskan hingga Rp 1,2 juta dalam setahun. Cek tanggal terakhir Anda menggunakan app atau layanan online tersebut dan hapus keanggotaan yang jarang Anda pakai atau gantikan dengan versi gratisnya.

Bayangkan jika uang keanggotaan tersebut Anda tambahkan ke dalam tabungan atau investasi; bukankah akan lebih bermanfaat karena nilainya bertambah seiiring waktu?

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×