SINGLE MOM: Bagaimana Cara Meminta Tunjangan Keuangan Pasca Perceraian?


Eva, seorang ibu tunggal yang memiliki anak perempuan berusia 8 tahun memilih untuk bercerai dengan mantan suaminya saat memasuki usia pernikahan mereka dikarenakan “ketidakcocokan hubungan.”Namun ia enggan menjelaskan secara rinci alasan perpisahan mereka, apakah karena kekerasan dalam rumah tangga atau sebab lainnya, ia hanya mengatakan bahwa keputusan berpisah merupakan keputusan terbaik untuk ia dan anaknya.

Eva merupakan salah satu dari sekian banyak ibu tunggal atau single mom yang kini jumlahnya semakin bertambah di Asia.

Berdasarkan studi terhadap trend anak secara global, berikut adalah jumlah persentase anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal di Asia. Di Indonesia dan philipina, 1 dari 10 anak hidup bersama orang tua tunggal.

% Anak yang dibesarkan orang tua tunggal
Jepang 12%
Indonesia 10%
Philippina 10%
India 9%
Malaysia 6%
China 4%
Taiwan 4%

Source: sustaindemographicdividend

Dengan pekerjaaanya sebagai tenaga penjual saat ini, Eva merasa tidak cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan anaknya. Dalam kasus ini hanya adil apabila mantan suaminya juga ikut menanggung biaya hidup untuk keperluan anaknya, benar kan?

Idealnya sih seperti itulah yang seharusnya terjadi.

Namun nyatanya, di beberapa Negara di Asia, hukum mewajibkan seorang ayah memberikan tunjangan untuk anaknya hingga anak mampu membiayai diri sendiri (beberapa Negara menetapkan hingga usia 18, namun beberapa menjadikan usia 21 tahun sebagai batasannya).

Seperti disampaikan oleh Maureen Hitipew, pemilik dari komunitas Single Moms Indonesia, bahwa walaupun sudah ada hukum mengikat yang berlaku dan beberapa pasangan yang telah bersepakat untuk mengatur tunjangan anak setelah perceraian, pada kenyataannya masih ada beberapa mantan suami yang tidak memenuhi kewajibannya itu. Dan pada komunitas yang diasuhnya, hanya 2-3 orang dari 300 anggotanya (sekitar 1%) yang mendapatkan tunjangan anak dari mantan suaminya.

Banyak alasan yang melatarbelakangi kejadian ini dan beberapa diantaranya malah terhitung melewati batas. Namun tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, beberapa cara ini bisa digunakan untuk mengurangi kekhawatiran dan mengatasi masalah yang ada:

  • Buat kesepakatan yang adil. Buat kesepakatan dengan mantan suami terkait kewajiban dan hak terkait dengan urusan anak (kunjungan rutin, liburan, dll). Bisa dimengerti bila hal ini terasa sulit bila terjadi ketegangan antara Anda dan mantan suami; namun untuk masa depan anak, sebaiknya singkirkan dulu perasaan tersebut
  • Jangan jadikan anak sebagai “tawanan.” Hindari mengancam dengan mempergunakan anak sebagai alasan, misalnya “Dilarang datang untuk mengunjungi anak apabila jatah uang belum dikirim!” Hal ini tentunya sangat tidak adil untuk anak.
    Walau ada rasa kesal dan lelah saat harus bekerja sendiri, bahkan bekerja di lebih dari satu tempat, hanya untuk menghidupi anak, anak masih tetap membutuhkan sosok seorang ayah.
    Apakah adil bila Anda harus menghilangkan sosok ayahnya dari kehidupannya? Tentu iya jawabnya, namun hanya jika kehadiran ayahnya membahayakan keselamatan Anda dan anak.

  • Ajukan permintaan yang masuk akal. Bila saat masih bersama, dengan pekerjaannya saat ini mantan suami Anda hanya mampu memberikan uang sekolah. Maka setelah berpisah pun, mintalah yang sesuai kemampuannya, jangan pula meminta fasilitas antar jemput anak dari dan ke sekolah.
  • Fokus pada kebutuhan anak. Misalnya, uang sekolah bulanan, uang kursus, biaya pendaftaran sekolah, biaya berobat bila anak sakit dan dibawa berobat ke dokter, dan lainnya. Jangan pula mengambil kesempatan untuk memasukkan anggaran perawatan diri sendiri dan biaya kosmetik saat meminta tunjangan kepada mantan suami
  • Jangan ragu untuk menagih uang tunjangan sesuai jumlah yang telah disepakati bersama. Hal ini wajib dilakukan, terutama jika mantan suami Anda termasuk orang yang pelupa atau lalai bila tidak diingatkan.
    Bila perlu, sarankan ia untuk membayar langsung uang sekolah/kursus ke sekolah atau tempat kursus anak sehingga ia tahu bahwa benar biaya yang dibutuhkan sejumlah yang Anda minta supaya tidak terjadi kesalahpahaman tentang uang yang diberikan.

Tidak ada pasangan menikah yang bertujuan atau menginginkan perceraian. Karena perceraian itu sendiri sudah sangat menyakitkan, apalagi bila masih harus ditambah dengan masalah keuangan yang berlarut-larut sesudahnya, pasti sangat mengganggu proses untuk move on dan menata hidup ke depannya.

Seperti kata pepatah, belajarlah untuk menerima apapun yang terjadi, meski itu bukanlah yang Anda inginkan. Percayalah bahwa pasti ada alasan dibalik perpisahan itu dan kejadian ini dapat menjadikan Anda pribadi yang lebih baik.

Power to Single Moms!

Silahkan baca artikel terkait :

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×