Cinta & Uang: Sudahkah Kamu Jujur pada Pasangan?


Sudah pasti kita menginginkan pasangan untuk selalu jujur kepada kita. Tetapi apakah kita juga sudah jujur padanya?

Berikut ini beberapa cerita yang merupakan pengakuan dari beberapa pria dan wanita tentang “rahasia” yang mereka sembunyikan dari pasangannya.

Dianne, 28 tahun, karyawan swasta

Gue heran kenapa doyan banget beli lipstick. Nggak keitung berapa banyak lipstick yang ada di rumah. Suami sih nggak pernah marah, pun nggak pernah nanyain. Tapi akhirnya gue ngumpetin barang-barang ini juga, sih. 

Penyebabnya adalah, suatu hari gue ngobrol sama teman yang pengacara perceraian. Nah, dari dia, gue tahu banyak perceraian yang nuntut harta gono gininya tuh aneh-aneh. Ada yang pernah nuntut koleksi sepatu istri, koleksi die cast suami, atau koleksi poster musik. Kan ajaib ya. Gue tiba-tiba kepikiran, kalo gue cerai sama suami (bukan berarti kepikiran, but who knows, right?) terus tau-tau dia nuntut gono gininya itu koleksi lipstick gue gimana? 

Nah sejak saat itu, setiap lipstick yang gue beli nggak gue bawa pulang ke rumah. Taro aja di kantor, mobil, rumah nyokap, atau tempat lain. Padahal sebenernya nggak ngaruh juga sih, berapa banyak coba laki-laki yang menghitung jumlah lipstick pasangannya? Hehehe...

Danis, 35 tahun, pengusaha

Yang gue umpetin dari istri biasanya peralatan gaming. Kecil-kecil sih sebenarnya, kaya headset, mouse, gitu-gitu aja. Tapi namanya juga hobi kan, pasti pingin yang bagus. Nah yang bagus kan harganya mahal.

Sudah kebayang reaksi istri gue kalo tau harga mouse yang gue pake itu di atas sejuta. Pasti bakal bawel banget. Ngapain beli yang harganya segitu, mending duitnya ditabung buat anak, dan seterusnya! 

Kan males ya?

Gini cara gue mensiasatinya, kebetulan perusahaan gue bergeraknya di bidang teknologi, waktunya beli perlengkapan kantor suka gue selipin 1-2 kebutuhan pribadi. Misalnya, pas kantor beli mouse baru, gue sekalian beli headset dan bilang bahwa dua-duanya punya kantor. Beres kan?

Daisy, 34 tahun, karyawan swasta

Aku sih nggak diem-diem kalau belanja sesuatu. Tapi memang suami nggak pernah tahu aja harga pasti barang yang aku pakai. Misalnya, aku kebetulan cukup sering beli tas desainer dengan uang gajiku sendiri, nah yang itu suami nggak pernah tahu harga pastinya. Dia sih cuek aja, selama kebutuhan utama keluarga kami sudah terpenuhi.

Suatu hari, suamiku tugas ke Eropa. Dan di tengah perjalanan dinasnya, dia menyempatkan berjalan-jalan lalu melihat toko desainer favorit yang kebetulan aku punya beberapa tasnya. Dia langsung whatsapp dong, menanyakan apa aku mau dibelikan tas desainer tersebut? 

Dilema deh, di satu sisi aku senang karena suami menawarkan barang yang memang aku suka. Tapi di sisi lain bingung, karena kalau suami beliin nanti dia jadi tahu harga asli tas tersebut dan bisa-bisa jadi dibahas terus-terusan, 7 hari 7 malam non stop nih.

Maya, 27 tahun, karyawan swasta

Gue doyan belanja. Tapi untungnya karena kerja di bidang financial, jadi gue cukup bisa memilah mana yang perlu gue beli mana yang nggak. Tapi ya namanya juga perempuan, banyakan nggak tahannya kalau ngomongin masalah belanja, ya nggak?

Trik biar nggak berantem sama suami adalah, gue hanya bawa pulang barang produktif. Maksudnya, kalo beli keperluan kantor, keperluan rumah, atau logam mulia buat investasi, suami pasti tahu. Good girl, itu katanya, hehehe.

Giliran barang-barang konsumtif, baru deh umpet-umpetan. Kalau terpaksa dibawa pulang, kaya makeup atau skincare, gue bilangnya itu oleh-oleh teman. Kebetulan kantor gue orang-orangnya suka pada tugas ke luar negeri. Kalau tas, baju, sepatu biasanya bilangnya lagi diskon atau beli di bazaar. Pokoknya, jangan sampe suami tahu harga asli!

Christian, 30 tahun, karyawan swasta

Seperti kebanyakan laki-laki, pengeluaran nggak jauh-jauh dari hobi. Ya beli spareparts motor, aksesorisnya, gitu-gitulah. Seringnya gue beli buat bagian dalam sih pokoknya yang nggak kelihatan dari sudut pandang perempuan, kalo yang kelihatan itu gue bilangnya dikasih. Kebetulan punya banyak teman yang bisnisnya berkaitan sama hobi gue, sih.

Tapi basically, karena jarang ditanya, jadi nggak masalah juga. Lagian kan, uang jajan gue ya terserah gue mau dibeliin apa. Dan dia juga gitu kok, punya uang jajan yang bebas mau dibelanjain apa aja!

Ryan, 32 tahun, karyawan swasta

Gue nggak pernah bohong sama istri. Apalagi buat masalah belanjaan. Kebetulan gue pencari nafkah tunggal di keluarga, dan untungnya semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Bahkan sesekali jika istri ingin membeli barang agak mewah, selama kebutuhan utama sudah terpenuhi sih, boleh-boleh aja.

Tapi pernah ada satu kejadian nih, gue mencoba bohong ke istri. Jadi gue abis beli velg mobil yang harganya lumayan banget lah. Kalo gue bilang ke istri harga aslinya, walaupun dia oke-oke aja, tapi kok kayanya mahal banget buat velg doang. Lalu pas sampe rumah dan ngobrol sama istri, dia nanya berapa harga velg yang baru ganti. Entah kenapa gue bohong dan menjawab harganya itu setengah dari harga asli. Istri gue iya-iya aja dong, ya. Secara juga nggak terlalu paham sama urusan otomotif.

Besoknya tau-tau istri nanya lagi, “berapa itu kemarin harga velg?”. Karena terbiasa jujur untuk masalah keuangan, gue malah balik tanya, “Kemarin aku jawabnya berapa ya?”. Rupanya dia nemuin bon pembelian velg di kantong celana, haha!

Untung aja, istri gue tipe yang lumayan santai, ya. Kalo nggak sih, mungkin bakal perang dunia ketiga! Kapok lah bohong-bohong lagi, wong bini gue nyantai kok!

Friedrich Nietzsche, seorang filsuf berkebangsaan Jerman pernah mengatakan, “Saya tidak sedih karena kamu berbohong pada saya, tapi saya sedih karena mulai saat ini saya telah kehilangan kepercayaan padamu.”

Apakah untuk menghindari konflik kamu rela kehilangan kepercayaan dari pasangan?

Buat kamu yang baper dan ngerasa punya cerita yang sama, It's time for curcol. 

Ceritain pengalaman pribadi kamu di kolom komentar ya  

Ditunggu loh...


Silahkan baca artikel terkait: 3 Rahasia Buka-Bukaan Uang dengan Pasangan

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×