Baikkah Memulai Bisnis Bersama Teman?


Uang hilang, persahabatan putus, dan terkadang perseteruan hukum pun bisa terjadi.

Bayangkan Mia, perempuan single yang memulai bisnis dengan sahabatnya Nita, seorang ibu tiga anak. Mia sangat percaya akan kemampuan Nita sehingga ia memutuskan untuk menaruh bagian sebesar 70% dari modal awal Rp 60 juta untuk bisnis kue yang mereka jalankan.

 

Mia mengelola dari sisi pengembangan bisnis sementara Nita mengelola dapur, dan jaringan mereka berdua telah membuat bisnis kue ini berkembang pesat di tahun pertama. Mereka menerima ulasan baik dari media dan serta-merta memperoleh lebih banyak pesanan dalam jumlah besar. Namun, pertikaian mulai terjadi di tahun kedua ketika Mia mulai bersikap seperti bos, karena ia merasa telah menanamkan uang lebih banyak. Mia pun sering menambah jam kerja dan menuntut target yang lebih tinggi, sementara Nita menginginkan kenaikan penjualan yang bertahap supaya ia dapat meluangkan waktu lebih bersama anak-anaknya. Keduanya mulai berpikir bahwa mereka membuat kesalahan dengan berinvestasi bersama sahabat, karena tempat kerja mereka kini telah menjadi tempat yang penuh tekanan.

Seperti halnya pernikahan, rekanan bisnis dapat berakhir dengan perceraian yang pahit. Sebelum Anda berpikir untuk menandatangani secarik dokumen persetujuan bisnis bersama calon rekan, LiveOlive telah mengumpulkan beberapa pertimbangan penting yang mungkin belum Anda sadari:

1. Kepemilikan Saham Penuh, Saham Minoritas atau Saham Ekuitas?

Mia menanamkan investasi sebesar 70% dari total modal awal, sementara Nita menanamkan 30% beserta keahliannya, dan menganggap bahwa kontribusi tersebut menyetarakan sahamnya sebagai rekan bisnis.

Tip: Bagaimana Anda akan menentukan kesepakatan saham dengan calon rekan bisnis? Siapa pemegang saham mayoritas? Siapa pemegang minoritas? Apakah keahlian dihitung sebagai ekuitas? Ada banyak contoh skema kerjasama bisnis yang dapat dijadikan acuan, namun ini hanya akan berhasil apabila isu-isu utama di atas didiskusikan sejak awal.

Aulia Halimatussadiah, salah satu pebisnis perempuan yang telah sukses mendirikan beberapa bisnis dengan rekan kerja yang berbeda — termasuk Nulisbuku.com, studio  game Tempa Labs, dan brand fashion Salsabeela — membagikan pengalamannya, “Ketika saya memulai bisnis dengan satu rekan atau lebih, saya lebih setuju kalau para pendiri perusahaan memiliki porsi saham yang sama, sehingga tidak ada yang merasa lebih ‘kecil’ atau lebih ‘besar’dari yang lain.”               

“Alasan berpartner dengan seseorang bukan karena dia teman, tetapi karena saya dan orang tersebut memiliki visi yang sama,” ia menambahkan.

2. Penghasilan Pasif atau Penghasilan Utama?

Mia dan Nita membuat asumsi karena mereka merasa sudah saling mengenal satu sama lain, namun meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, mereka memiliki perbedaan dalam menjalankan usaha untuk meningkatkan target penjualan.

Tip: Apa alasan Anda mendirikan bisnis ini? Calon rekan bisnis Anda bisa melihat bisnis ini sebagai sumber penghasilan utamanya atau melihatnya sebagai sumber penghasilan pasif. Bagaimana rencana Anda untuk  mengembangkan bisnis ini, secara perlahan atau drastis? Semakin jelas dan cepat Anda mendiskusikan isu potensial semacam ini, semakin baik Anda dan rekan dapat menyesuaikan ekspektasi masing-masing  dan terhindar dari perasaan frustasi.

3. Siap Menjadi Rekan Bisnis atau Pegawai?

Mia pandai dalam mengatur sumber daya, sementara Nita pandai dalam menciptakan produk. Akan tetapi, Mia ingin maju dengan cepat, sementara nita ingin maju secara perlahan.

Tip: Anda mungkin sudah tahu kebiasaan pribadi teman Anda, tetapi apakah Anda tahu kebiasaan dia yang berhubungan dengan bisnis? Bagaimana Anda menghadapi keterlambatan, ketidakteraturan kerja, serta manajemen waktu? Mengelola perusahaan start-up membutuhkan waktu dan kerja dua kali lipat dibandingkan bekerja sebagai pegawai. Ingat, “kantor” Anda mungkin sebuah kafe atau garasi rumah, tetapi itu berfungsi selayaknya sebuah perusahaan.

4. Dapatkan Bantuan Profesional

Baik Mia maupun Nita tidak pernah menduga bahwa bisnis kue mereka dapat berkembang begitu cepat dan bahwa kesuksesan tersebut lantas mengancam persahabatan mereka dalam kurun waktu dua tahun. Mereka juga tidak memiliki kerangka hukum atau kerangka keuangan untuk menentukan langkah mereka selanjutnya.

Tip: Bentuk kerjasama rekanan dengan bantuan seorang ahli hukum dan ahli keuangan. Buat persetujuan tertulis yang mencakup hal-hal seperti peran dan tanggung jawab, kompensasi, manajemen waktu, bahkan klausa penjualan saham sehingga Anda dan rekan kelak dapat mengingat kembali persetujuan awal yang telah disepakati.

Nita akhirnya mendiskusikan masalahnya dengan Mia, yang cukup terkejut ketika mengetahui bahwa ia tanpa sadar telah menekan sahabatnya. Mereka memperbarui persetujuan bisnis dengan bantuan seorang akuntan dan penasihat hukum, yang memberikan mereka motivasi untuk melanjutkan bisnis. Mia dan Nita pun menyadari bahwa bisnis mereka tidak akan sedemikian sukses tanpa menggabungkan kemampuan masing-masing.

Nah, apakah Anda merasa hubungan pertemanan Anda dengan calon rekan akan dapat mengatasi tekanan bisnis? Jika jawabannya positif dan Anda telah mempertimbangkan kemampuan keuangan Anda berdasarkan  artikel LiveOlive sebelumnya, segera mulai saja bisnis tersebut!

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×