Perempuan, Teknologi Informasi dan Ekonomi


Ratusan pengusaha wanita dan eksekutif tingkat tinggi se-Asia Pasifik minggu lalu berkumpul di Nusa Dua, Bali, untuk berpartisipasi dalam Women and the Economy Forum (WEF) ke-3 yang merupakan bagian dari agenda pertemuan APEC.

Di antara cakupan topik yang luas, satu sesi diskusi berfokus pada "Wanita dan TI" dengan CEO dan Founder LiveOlive Jocelyn Pantastico sebagai salah satu panelis disamping Yoshie Tsukamoto -President & CEO NTT Com Online Marketing Jepang, Michelle Gutrie -Google Managing Director for Partner Business Solution, Malathi Das -First VP Singapore Council of Women's Organisations, dan Suzan Miller -Intel Global VP for Legal serta Corporate Affairs and Deputy General Counsel USA.

Sesi yang diikuti dengan makan siang yang santai tersebut dimulai dengan sebuah diskusi mengenai peran wanita dalam industri TI --sebuah bidang yang bisa dibilang saat ini didominasi pria. Kurangnya pengertian dan dukungan dari sekitar dianggap sebagai alasan mengapa wanita tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Menurut Suzan Miller dari Intel, beberapa penghalang termasuk "buta komputer", "biaya untuk memiliki akses online", dan "kurangnya konten yang bermutu bagi wanita dan bisnis". 

Jocelyn menambahkan bahwa fakta kesenjangan antar gender ini muncul tidak hanya dalam hal teknologi, melainkan juga dalam hal kemelekan keuangan. Mengutip sebuah survey yang diadakan Prudential akhir-akhir ini, ia mengatakan 9 dari 10 wanita menganggap diri mereka tidak mampu memilih produk keuangan yang sesuai bagi diri mereka. "Tidak mengherankan jika ini tercermin dalam tindakan mereka. Sebuah studi Nielsen mengindikasikan bahwa di Indonesia hanya satu dari 10 wanita memiliki asuransi kesehatan," ia menjelaskan.

Belajar dari perjalanan finansialnya sendiri, Jocelyn berharap wanita bisa memiliki lebih banyak arahan tentang bagaimana menyusun anggaran dan cara menginvestasikan uang yang sudah dihasilkan dengan kerja keras. "Saya berharap dulu ada seseorang yang memberitahu saya tentang membuat anggaran, dana darurat, asuransi, investasi," ujarnya.

Diskusi panel menjadi lebih menarik lagi saat pertanyaan-pertanyaan mulai mengalir dari para partisipan, dengan topik bervariasi, dari mulai tentang penggunaan media sosial hingga tips wirausaha. Bagai hembusan angin segar mengetahui bahwa perusahaan besar seperti Google dan Intel memperhatikan UKM dan mengenalinya sebagai penggerak ekonomi penting suatu negara --terutama bagi negara-negara berkembang di kawasan regional. 

Selain topik "Wanita dan TI", juga ada berbagai diskusi seputar Reformasi Struktur serta Infrastruktur dan Tenaga Kerja. Women and the Economy Forum berikutnya akan diselenggarakan tahun depan di Cina.   

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×