Menilik Konflik Seputar Warisan


Di Indonesia, ahli waris --anak dan janda atau duda yang tidak diceraikan dari pewaris, atau jika tidak ada, orangtua pewaris-- ditentukan secara hukum dalam Pasal 852 KUH Perdata dan secara otomatis berhak memperoleh warisan, terlepas dari apakah namanya disebutkan dalam wasiat. Jadi, kalau Anda termasuk ahli waris yang ditentukan secara hukum, tidak perlu khawatir kalau nama Anda tidak tercantum dalam wasiat.

Meski begitu, pewaris bisa mengalokasikan sampai dengan 25% dari aset-asetnya kepada pihak-pihak selain yang ditentukan oleh Pasal 852 ini, misalnya kepada badan amal. Namun jika lebih dari 25% warisan dialokasikan kepada pihak selain yang ditentukan secara hukum sebagai ahli waris, maka ahli waris yang merasa haknya dirugikan bisa menggugat ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama.

Ahli waris tak cakap hukum

Seorang ahli waris dianggap tak cakap hukum apabila berusia di bawah 17 tahun, sakit mental, pemabuk, atau pemboros yang tidak bisa membuat keputusan secara hukum tanpa bantuan pendamping.

Dalam hal ini, ahli waris yang tak cakap hukum perlu dibantu seorang wali atau pengampu, yang biasanya adalah orangtuanya, kakaknya, atau anggota keluarga lainnya yang bisa dipercaya. Tugas sebagai wali atau pengampu tidak berarti bagian warisannya bertambah, ataupun membuat wali atau pengampu yang bukan ahli waris menjadi ahli waris.

Terkadang bisa juga mempekerjakan wali atau pengampu yang bukan anggota keluarga untuk mengelola warisan ahli waris tak cakap hukum secara profesional.

Kehilangan hak waris

Ahli waris diberi toleransi jangka waktu 30 tahun untuk mengajukan klaim waris, terhitung dari tanggal kematian pewaris. Lewat dari itu, hak klaim waris kadaluwarsa.

Ahli waris dapat kehilangan hak menerima waris apabila oleh putusan hakim terbukti di pengadilan telah melakukan kejahatan terhadap pewaris, antara lain:

  • Telah membunuh atau mencoba membunuh pewaris
  • Telah memfitnah pewaris untuk kejahatan yang diancam hukuman pidana 5 tahun penjara atau lebih
  • Telah melakukan kekerasan yang mencegah pewaris dari menulis atau mencabut wasiatnya
  • Telah menggelapkan, merusak, atau memalsukan wasiat pewaris.

Dalam keluarga Muslim, perbedaan agama juga bisa menjadi penyebab kehilangan warisan secara hukum. Dalam hal ini, anggota keluarga yang tidak beragama Islam atau sudah meninggalkan agama Islam bisa kehilangan hak warisnya.

Bagaimana Menyelesaikan Sengketa

Gugatan dapat disampaikan permohonan kepada Pengadilan Agama jika Anda beragama Islam, dan Pengadilan Negeri jika Anda non-Muslim. Prosedurnya terdiri dari registrasi perkara, penerimaan surat panggilan, sidang perdana untuk memeriksa identitas ahli waris dan kuasanya, sidang-sidang berikutnya untuk pemeriksaan berkas dan pembuktian, kemudian putusan. Pada umumnya, proses perkara memakan waktu 6 minggu hingga 3 bulan.

Tip: Anda bisa mengedukasi diri tentang hukum waris secara gratis dengan membaca www.hukumonline.com atau perpustakaan hukum Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) di Puri Imperium Office Plaza, Jl Kuningan Madya kav 5-6, Jakarta. Selain itu, tak ada salahnya mengonsultasikan kasus Anda pada ahli hukum dengan bidang praktik hukum keluarga untuk mendapat nasihat hukum yang sesuai untuk kasus Anda.

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×