3 Kesalahan Keuangan yang Dilakukan Wirausahawan


Menjadi bos atas usaha sendiri, termasuk mengelola keuangannya, tidak semudah yang dibayangkan. Sedikit kesalahan bisa menyebabkan kerugian, bahkan kebangkrutan. Mari belajar dari kesalahan-kesalahan para pengusaha wanita berikut ini:

1. Menyatukan Uang untuk Kepentingan Pribadi dan Usaha

Cukup mengagetkan, beberapa wirausahawan memilih untuk menyatukan uang pribadi mereka dengan uang hasil usaha. Natalia Kian, 22, adalah salah satu wirausahawan muda yang melakukannya. Perempuan yang memiliki butik di Surabaya yang bernama sama dengannya ini mempunyai satu rekening yang menampung uang pribadi serta uang hasil penjualan di butik. Alasannya, usaha butik tersebut merupakan sumber penghasilan utama yang nantinya juga akan dipakai untuk membayar beberapa keperluan pribadi Natalia.

“Usaha saya di butik adalah pekerjaan full time saya. Dari sana juga saya mendapatkan gaji untuk keperluan pribadi. Untuk memudahkan (pengelolaan), maka semua uang saya satukan,” ujarnya.

Cara ini sebenarnya harus dihindari, agar Anda tidak mudah memakai uang pribadi untuk keperluan bisnis dan sebaliknya. Ini berbeda dengan Ewindha, 28, yang membangun bisnis toko online gotosovie.com sejak tahun 2008. Pengalaman mengajarkannya untuk memisahkan uang pribadi dengan uang hasil usaha, karena pengaturannya jadi lebih mudah.

“Memisahkan kedua rekening membuat saya lebih mudah mengatur biaya untuk bisnis,” kata Ewindha.

2. Tidak Punya Cukup Dana Darurat

Satu hal lagi yang mutlak dimiliki seorang wirausahawan adalah dana darurat yang mencukupi. Ewindha mengaku mempunyai dana darurat sebesar lima kali biaya hidupnya dalam sebulan. Setiap bulannya ia menghabiskan Rp 5 juta, sehingga dana daruratnya berjumlah Rp 25 juta. Ia mengakui bahwa dana darurat ini sangat membantu, terutama ketika bisnisnya memasuki masa sepi pembeli.

“Dalam bisnis tas, penghasilan sangat tidak menentu per bulannya. Dana darurat yang saya punya sangat membantu ketika saya menjalani masa-masa dimana penjualan sangat sedikit,” jelasnya.

Ewindha menambahkan, dana darurat yang dimilikinya ditaruh dalam rekening tersendiri yang tidak boleh diutak-atik. Bahkan, ia menyarankan untuk menaruh dana darurat tersebut dalam rekening tanpa potongan administrasi dan sebaiknya tidak mempunyai kartu ATM.

“Ketika menyimpan dana darurat saya memilih rekening bank syariah yang tidak memiliki potongan dan tidak mengambil kartu ATM yang diberikan. Dengan begini, jumlahnya akan tetap sama dan tidak termakan potongan administrasi bank.”

3. Salah Memperhitungkan Biaya Pengembangan Bisnis

Tidak cermat menyusun biaya yang diperlukan dalam pengembangan usaha juga merupakan kesalahan yang sering dilakukan wirausahawan. Hal ini pernah dialami Ewindha ketika dirinya ingin mengembangkan bisnis dari online menjadi offline.

“Dana yang diperlukan untuk membuat bisnis offline, dari menyewa tempat hingga mendekorasi toko ternyata sangat besar sehingga saya memutuskan untuk mengurungkan niat dan memilih mengumpulkan uang dahulu dari bisnis online saya,” ujarnya.

Lain dengan Ewindha, Natalia mencoba meminta pendapat orang lain ketika ingin mengembangkan bisnisnya. Awalnya ia bermaksud mengembangkan butiknya ke Jakarta, namun anggaran yang dibuatnya dinilai orang tuanya –yang juga seorang wirausaha– terlalu kecil sehingga ia disarankan untuk berkonsentrasi dulu mengembangkan bisnis di Surabaya. 

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×