Asuransi Kartu Kredit: Perlukah Kita Memilikinya?


Para pemegang kartu kredit tentu tak asing lagi dengan penawaran asuransi kartu kredit –biasa juga disebut Credit Protector, Credit Shield, atau Credit Guard– yang sering disampaikan oleh telemarketer melalui telepon.

Apabila “ditodong” langsung membuat keputusan hanya berdasarkan informasi sekilas yang diberikan telemarketer, alangkah mudahnya mengiyakan saja tawaran asuransinya, apalagi jika dikatakan bahwa itu wajib dan preminya sangat murah. Tapi apakah Anda benar-benar memerlukannya?

Utang setelah Anda meninggal

Menurut hukum waris, apabila seorang pengutang meninggal, utang yang belum terbayar diwariskan kepada ahli waris pengutang. Tergantung pemakaian kartu kredit pengutang yang telah meninggal serta jumlah aset yang diwariskannya, pembayaran utang kartu kredit bisa mengganggu keuangan ahli waris, atau setidaknya merepotkan. Asuransi kartu kredit fungsinya untuk membebaskan utang kartu kredit bila pemegang kartu meninggal dunia.

Cara kerja proteksi

 

Untuk memperoleh perlindungan ini, pemegang kartu kredit harus membayar premi asuransi yang besarnya sekitar 0,3%-0,8% dari total tagihan bulanan kartu. Jika utang kartu kredit Anda pada bulan tertentu bernilai Rp 1 juta, dan Anda berlangganan asuransi dengan premi 0,4%, maka premi Anda bulan itu berjumlah Rp 4.000. Apabila pada bulan itu Anda tidak punya hutang kartu kredit, maka Anda pun tidak perlu membayar premi.

Cara mengklaim asuransi

Untuk memperoleh manfaatnya, ahli waris pemegang kartu kredit perlu menghubungi bank penerbit kartu dalam kurun waktu tiga bulan sejak pemegang kartu meninggal dunia. Ahli waris perlu melampirkan surat permohonan, berikut surat kematian sebagai bukti. Dengan mengklaim asuransi ini, berakhir pula masa berlaku kartu kredit.

Seberapa pentingnya memiliki asuransi kartu kredit?

Menurut Kirana, 27, seorang karyawan swasta yang belum berkeluarga, asuransi kartu kredit kurang bermanfaat untuknya. “Pemakaian kartu kredit saya aman terkendali... sedangkan tabungan saya jauh lebih banyak dari itu,” kata Kirana. “Kalaupun saya meninggal dunia, utangnya paling jatuh ke orangtua, itu pun bisa mereka bayar bukan pakai uang mereka tapi dari aset yang saya tinggalkan.”

Sebaliknya, Ratna, 37, seorang staff HR yang sudah berkeluarga, menggunakan asuransi kartu kredit untuk berjaga-jaga. “Toh preminya tidak seberapa —cuma seharga parkir beberapa jam di mal,” tukasnya.

“Kalaupun tabungan saya tidak tekor, kasihan anak-anak kalau uang yang seharusnya bisa buat warisan mereka terpakai untuk bayar utang saya.”

Walaupun Ratna tidak mempunyai kenalan yang pernah mengklaim asuransi ini, Ratna merasa cukup percaya. Suami Ratna juga menggunakan asuransi kartu kredit yang sama, sehingga jika salah satu dari mereka meninggal, pasangannya tahu apa yang harus dilakukan.

Jika Anda berubah pikiran

Meski Anda pernah mengiyakan tawaran asuransi kartu kredit per telepon, Anda bisa berubah pikiran dan membatalkannya.

Untuk itu, Anda harus menunggu sampai tanggal cetak tagihan berikutnya. Kemudian, Anda cukup menelepon hotline customer service dari bank penerbit kartu kredit tersebut dan menyampaikan secara verbal bahwa Anda ingin melakukan pembatalan asuransi. Jangan lupa pastikan premi tersebut sudah tidak muncul di tagihan kartu kredit bulan berikutnya.

Tip: Jika Anda menerima telepon dari nomor selular tidak dikenal yang menawarkan produk asuransi, tidak perlu ragu atau sungkan untuk berkata “tidak”. Faktanya, Anda tidak bisa memastikan apakah telepon yang Anda terima benar-benar berasal dari perusahaan asuransi dan persetujuan Anda –atau satu kata “ya”– yang direkam melalui telepon akan menjadi bentuk perjanjian sepihak yang tidak dilengkapi dokumen resmi.
 

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Saat Kehilangan Kartu Kredit

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×