Fakta Tersembunyi Tentang Diskon


Banyak wanita senang berbelanja saat ada diskon dan merasa puas bisa membeli barang-barang yang didambakan dengan harga lebih murah.

Mima, 39, misalnya, mengaku kalau ia rela berburu diskon dan membandingkan harga di berbagai tempat demi mendapatkan barang bermerk dengan harga miring.

“Saya rela menunggu berbulan-bulan,” ujarnya.

Adakah udang di balik batu obralan? Simak pendapat Deliza, 22, yang meski senang belanja obralan berpendapat bahwa konsumen bukanlah yang diuntungkan oleh hal tersebut.

 “Diskon besar-besaran itu pasti karena barangnya lama, dan semua orang tahu yang namanya ‘diskon’ itu sudah di- mark up dulu.”

“Gara-gara sale jadi boros. Saya jadinya beli barang yang tidak benar-benar diinginkan, hanya karena harganya kelihatan murah. Padahal habis jutaan,” ujar Winda, seorang fashion stylist berusia 23 tahun.

Ini dia realita di balik obral dan diskon, seperti diungkapkan Fiona A., seorang brand manager dari sebuah merk fashion upscale asal Amerika Serikat, di Jakarta:

Mengeluarkan stok lama

Sale diadakan untuk menghabiskan stok lama dan memperbarui stok di toko dengan fashion terbaru,” kata Fiona, sambil menambahkan bahwa barang obralan biasanya berusia 6 bulan ke atas. Di perusahaan tempatnya bekerja, obral biasanya diadakan dua kali setahun; saat Mid-Year Sale dan End of Year Sale.  

Menurut Fiona, usia barang obralan tidak mempengaruhi kualitas bahan. Berhubung industri fashion bergerak dengan cepat, gaya bisa berubah drastis dalam hitungan bulan. “Karena itulah kami tidak mau stok lama,” jelasnya.

Menjangkau pasar lain 

Sebuah studi yang diadakan IndonesiaWISE tahun lalu menemukan bahwa sekitar 70% penduduk Jakarta menganggap diri kurang mampu membeli barang-barang bermerk kapan saja mereka mau. Untuk mendapatkannya, harus menunggu diskon hingga harganya turun, meskipun itu berarti sudah lewat musimnya.

Dengan mengadakan obral, retailer mendapatkan akses kepada pasar ini. “Sale juga menarik konsumen yang tidak terlalu fashionista, sehingga mereka bisa mendapatkan barang bermerk dengan harga lebih murah,” kata Fiona.

Beberapa faktor yang memengaruhi diskon, antara lain usia barang, jumlah sisa stok, dan perkembangan fashion. Semakin lama barangnya, semakin banyak sisanya, semakin besar persepsi bahwa item tersebut “ketinggalan mode”, maka semakin besar juga diskonnya.

Murah atau Mark-up?

Seorang mantan karyawan di perusahaan ritel baju menjelaskan bahwa harga non-obral terdiri dari harga resmi –yang umumnya ditentukan oleh kantor pusat perusahaan– ditambah margin keuntungan yang ditargetkan.

Biarpun diskon bisa mencapai 70% untuk merk-merk fashion populer, tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan tetap harus menutupi biaya operasional dan gaji karyawan. Tentang ada atau tidaknya mark-up harga sebelum diskon, Fiona menolak memberi info lebih lanjut.

Meski ada saja godaan diskon, Anda tetap bisa kok memanfaatkannya untuk keuntungan Anda. Bagi Mima dan Winda, memantau info –misalnya kapan ada midnight sale– di website seperti Wolipop.com dan AdaDiskon.com atau dari newsfeed media jejaring sosial cukup berguna.  

Kalau Anda tidak mau habis jutaan rupiah gara-gara tergoda harga murah, ada baiknya membiasakan perencanaan belanja barang jauh-jauh hari, dan menentukan batas harga yang bersedia Anda bayar. 

 

Baca juga: 5 Investasi Mode yang Harus Dimiliki Setiap Wanita

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×