Tantangan Bekerja Sebagai Eksekutif di Luar Negeri


Jessica dan May, pekerja muda Indonesia berusia dua puluhan, sudah bekerja di Singapura selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, mereka dikagumi dan diperhatikan oleh teman-temannya, mengingat bekerja di luar negeri –di Singapura atau di negara asing lainnya– dianggap sebagai batu loncatan besar bagi karir dan pendapatan.    

Sementara ada keuntungan jelas dari bekerja di luar negeri –misalnya perluasan karir, pengenalan budaya yang berbeda, Jessica dan May berbagi pengalaman bagaimana kehidupan mereka jauh dari gaya hidup glamour yang dibayangkan oleh kerabat dan teman-teman mereka.   

Biaya hidup yang tinggi

Meskipun pendapatan mereka di Singapura lebih tinggi dibandingkan saat bekerja di Indonesia, namun biaya hidup di negara tersebut juga jauh lebih tinggi. Menurut sebuah laporan dari Economist Intelligent Unit (EIU), Singapura baru-baru ini dinobatkan sebagai negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia.

Hal tersebut dirasakan betul oleh Jessica, terutama untuk akomodasi, makanan dan hiburan. “Saat ini saya menyewa tempat tinggal bersama orang Indonesia. Untuk akomodasi saja budget yang saya keluarkan sudah 24% dari seluruh gaji saya,” kata perempuan berusia 25 tahun ini.

May, 28, juga mengalami hal yang sama. Meskipun dia juga tinggal di apartemen bersubsidi bersama tiga orang teman, akomodasi masih menyedot sekitar 20% dari gajinya. Berbeda dengan di Indonesia, fasilitas akomodasi di Singapura biasanya tidak disertai dengan fasilitas cuci dan setrika, TV kabel, internet, ataupun biaya listrik.

Sementara itu, makanan dan hiburan juga merupakan item pengeluaran yang besar bagi Jessica dan May –porsinya sama seperti akomodasi. “Di sini kalau makan paling mentok kalau pilih yang murah di hawker (semacam foodcourt terbuka). Tapi lama-lama bosan karena menunya itu-itu saja. Jadi sekali-kali memang harus ganti menu yang biasanya di restoran dan lebih mahal,” jelas May.

Di sisi lain, Jessica merasa berat untuk mencari hiburan di Singapura. Jika di Indonesia menonton bioskop hanya menghabiskan Rp 50.000, di Singapura bisa mencapai Rp 100.000.

Cara mengatasinya:

Untuk akomodasi, May memberikan tips untuk menghemat, yaitu mencari kamar yang menjadi satu dengan pemiliknya. “Biasanya hanya sekitar SGD 500 saja. Tapi memang ada trade off nya karena kita tidak sebebas jika tinggal sendiri,” jelasnya.

Selain itu, untuk makanan bisa dihemat dengan memasak sendiri di rumah –lebih hemat sekitar 20% dibandingkan makan di luar. Soal hiburan, May menyarankan untuk cerdik mengamati promosi-promosi yang ada di internet. “Singapura itu banyak promo. Asal kita rajin mengikuti Facebook komunitas tertentu,” katanya. Pilihan lain adalah mencari alternatif hiburan baru, misalnya olahraga, piknik di taman atau melakukan pekerjaan amal yang juga menjadi solusi menghemat.

Tak ada tunjangan lembur

“Waktu saya membaca klausul kontrak saya di sini, saya menemukan bahwa di sini tidak ada sistem uang lembur. Jadi gaji yang saya dapat itu all in,” ungkap Jessica kepada LiveOlive. Padahal, menurut Jessica, pekerjaannya sebagai akuntan pajak terkadang mengharuskan dia untuk kerja lembur. Jessica mengaku, dia mendapatkan kompensasi lembur waktu bekerja di Indonesia, yaitu sesuai dengan aturan Kepmen 102/2004 yaitu 1/173 dikalikan gaji per bulan.

Cara mengatasinya:

May punya siasat sendiri untuk mengatasi hal ini, yakni dengan menyelesaikan pekerjaan tepat selama jam kerja. “Kalau bisa siapkan timeline untuk sebulan penuh kita harus mengerjakan apa saja. Jadi pas jam kerja full fokus ke pekerjaan,” ujarnya. Sementara Jessica mempunyai trik lain, yaitu mengerjakan tugasnya sesuai kemampuan dia dan tenggat waktu yang ada. “Kalau diminta jauh-jauh hari sebelum tenggat waktu dan mengharuskan saya lembur setiap hari, saya bisa tawar ke atasan saya untuk mengerjakan lebih lama karena tenggat waktunya masih lama,” jelas Jessica.

Pergaulan sosial yang terbatas

Mempertahankan pertemanan di negara sendiri saja sudah cukup sulit, apalagi saat bekerja di negara asing. “Di kantor memang orangnya sangat profesional. Jadi memang nggak terlalu akrab jika bergaul di luar kantor dengan kolega,” ujar Jessica.

Cara mengatasinya:

Untuk mengatasi terbatasnya pergaulan dengan kolega, May yang bekerja di salah satu perusahaan UKM di Singapura mengaku sering bergabung dengan komunitas warga Indonesia yang bekerja di Singapura. “Biasanya kenal satu lalu kenal yang lain jadi bisa rutin bertemu. Dari situ kita juga merasa homey karena berasa seperti di Indonesia,” tukasnya.

Salah satu manfaat bekerja di luar negeri adalah untuk mengenal berbagai budaya. Jangan sia-siakan kesempatan ini dan ikuti komunitas pecinta hobi atau olahraga tertentu –misalnya memasak, belly dancing, Bitcoin, Frisbee, dragon boat, marathon, dan sebagainya– dan komunitas lain yang tidak hanya bisa mengobati kerinduan Anda terhadap tanah air, tapi juga memperluas jaringan pertemanan Anda.

Apa Anda juga punya cerita tentang pengalaman bekerja di luar negeri?  

Bacaan lain: Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Bekerja di Luar Negeri

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×