Siapkah Anda untuk Hamil Lagi?


Sebagai makhluk sosial, hidup kita memang tak luput dari pertanyaan dari orang lain, entah dari yang memang benar-benar peduli atau hanya sekedar basa basi. Seiring kita melewati fase kehidupan, pertanyaan pun meningkat dari “Kapan menikah?” menjadi “Kapan punya anak?”, hingga akhirnya kita akan menghadapi pertanyaan “Kapan nambah anak lagi?”

Masalahnya, menambah anak tentu tidak semudah menambah makanan di piring. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang. Jangan sampai alasan Anda menambah anak hanya untuk menjawab pertanyaan di atas, sebab pertanyaan yang seharusnya Anda jawab adalah: “Apakah Anda sudah siap untuk hamil lagi?”

Emmie, 34, ibu dari seorang putri berusia 6 tahun mengatakan, “Sebenarnya masa kehamilan itu sendiri buat saya tidak menyusahkan, justru menyenangkan. Tapi masa-masa setelah anak lahir itu lho, yang bikin saya keteteran. Mulai dari masalah ASI yang tidak lancar, anak yang rewel semalaman, suami yang kurang mengerti, sampai ortu yang control freak. Bukan hanya baby blue, tapi saya juga mengalami post-partum syndrome!”

“Saya cuma bisa bersyukur masa-masa itu sudah lewat. Rasanya berat sekali kalau harus mengulangnya kembali, padahal saya sangat ingin memberikan adik untuk Aurelia. Apalagi papanya juga sudah minta,” kenangnya.

Anna Maria, seorang konselor pernikahan menjelaskan bahwa idealnya seseorang dikatakan siap untuk hamil lagi apabila sudah ada kesiapan secara fisik, psikologis, moral dan finansial. Berikut ini daftar pertimbangan yang bisa membantu Anda dalam memperkirakan tingkat kesiapan Anda untuk hamil lagi.

1. Siap secara fisik

  • Tidak ada masalah besar dengan kesehatan Anda, terutama rahim dan sistem reproduksi.
  • Anda tidak sering merasa fatigue alias lelah berkepanjangan meskipun sedang tidak hamil.
  • Anda berusia 20-35 tahun. Saat ini bisa dibilang wajar untuk melahirkan di atas usia 30, namun pernyataan yang dirilis oleh Royal College of Obstetricians and Gynaecologist (RCOG) –sebuah asosiasi OB/GYN profesional yang berbasis di Inggris– menunjukkan bahwa usia terbaik wanita untuk hamil adalah antara 20-35 tahun.

2. Siap secara psikologis

  • Tidak ada trauma masa lalu yang berkaitan dengan peristiwa kehamilan dan melahirkan, atau kalaupun ada, masalah tersebut sudah sepenuhnya diatasi.
  • Anda dan suami siap mengantisipasi reaksi anak pertama –misalnya rasa cemburu dan persaingan antar saudara.

Sebuah riset menunjukkan bahwa saat terbaik untuk memiliki anak kedua adalah saat anak pertama Anda berusia di bawah satu tahun atau di atas empat tahun. Hal ini dapat mengurangi intensitas kecemburuan dan persaingan antar saudara.  

Menurut Jeannie Kidwell, seorang psikologis dari Universitas Tennessee ( Kidwell JS. 1981. Number of Siblings, Sibling Spacing, Sex, and Birth Order: Their Effects on Perceived Parent-Adolescent Relationships), anak berusia di bawah satu tahun belum banyak menikmati eksklusifitas sebagai anak tunggal, sehingga biasanya mereka tidak terlalu menentang kehadiran adik baru. Sementara itu, anak berusia 4 tahun ke atas biasanya sudah memiliki waktu yang cukup menjadi anak tunggal sementara, sehingga tidak terlalu menolak kehadiran sang adik.

3. Siap secara moral

  • Ada dukungan penuh dari suami. Jika suami terlihat menghindar atau tidak antusias saat Anda membicarakan tentang kehamilan, mungkin ia belum siap memiliki anak lagi. Untuk lebih amannya, tanyakan saja!
  • Ada dukungan dari orangtua, mertua dan saudara dekat, karena mereka adalah support system Anda dalam membesarkan anak. Utarakan rencana Anda, dan tanyakan pendapat mereka, apakah mereka keberatan jika sewaktu-waktu diminta bantuan untuk menjaga si kecil.

4. Siap secara finansial

  • Anda memiliki dana untuk membiayai seluruh proses kehamilan, melahirkan, hingga membesarkan satu anak lagi. Meski tidak langsung ada semuanya, tapi paling tidak perhitungan jangka panjang memungkinkan hal tersebut, termasuk membiayai pendidikan semua anak.
  • Anda siap mengorbankan karir demi anak apabila ternyata anak Anda membutuhkan perhatian lebih. Mungkin terdengar agak dramatis, tapi pikirkan dari hal paling sederhana saja. Misalnya saat anak sakit, dapatkah Anda mengambil cuti untuk mengurusnya?

Melihat daftar pertimbangan tersebut, Emmie mengatakan bahwa diri sudah siap secara fisik, moral dan finansial. “Cuma tinggal psikologis aja nih, saya harus mengatasi rasa ketakutan dalam diri sendiri!” ujarnya. Nah, bagaimana dengan Anda?

Baca juga: Biaya Proses Bayi Tabung di Indonesia

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×