Membiayai Pendidikan Anak: Kesalahan yang Perlu Dihindari


Bagi sebagian besar keluarga Asia, pendidikan adalah suatu pengeluaran yang akan ditanggung oleh orangtua sebagai bekal masa depan anak-anak mereka.    

Fakta #1: Di Indonesia, biaya pendidikan meningkat sebesar 15% per tahun. Jika biaya masuk perguruan tinggi saat ini adalah Rp 75 juta, jumlah tersebut akan menjadi Rp 600 juta dalam kurun waktu 15 tahun.

Fakta #2: Untuk memperoleh dana Rp 600 juta, seseorang harus menabung Rp 2,3 juta setiap bulan selama 15 tahun ke depan. Dengan catatan, uang tersebut ditempatkan dalam deposito berjangka dengan bunga sekitar 5% per tahun.

Fakta #3: Jika tabungan diinvestasikan dengan imbal hasil sekitar 15% per tahun, seseorang hanya perlu menyisihkan Rp 1,2 juta per bulan –ini tidak termasuk biaya-biaya tambahan. 

Metode

Jumlah yang harus disisihkan
(contoh: untuk mencapai Rp 600 juta
selama 15 tahun)

Deposito

Rp 2.300.000 per bulan

Investasi

Rp 1.200.000 per bulan

“Kesalahan paling mahal yang dibuat oleh para orangtua adalah tidak mempertimbangkan investasi dengan imbal hasil lebih tinggi, yang bisa menyamai atau melampaui kenaikan biaya sekolah (setiap tahunnya),” ucap Jocelyn Pantastico, founder LiveOlive sekaligus profesional CFP®.     

Lalu, apa saja sih pilihan guna memulai dan menjamin dana pendidikan anak Anda?

Strategi reksa dana

Menurut Pet Hen Ooi, seorang profesional CFP® dan Qualified Wealth Planning, bagi mereka yang tidak nyaman berinvestasi langsung di pasar saham, reksa dana merupakan pilihan bagus karena beberapa alasan berikut:

1. Anda bisa memulainya dengan uang berjumlah kecil, misalnya Rp 500.000 per bulan

2. Produk reksa dana sudah beragam atau diinvestasikan ke dalam saham yang berbeda, sehingga Anda tidak perlu meluangkan waktu memilih saham sendiri

3. Ada berbagai jenis reksa dana, sesuai untuk profil resiko masing-masing orang.

“Selain alokasi investasi, orang tua perlu memastikan diri telah memiliki asuransi berjangka atau asuransi jiwa seumur hidup. Sehingga, jika sewaktu-waktu orang tua sang anak meninggal atau tertimpa musibah, dana pendidikan anak akan tetap berlanjut,” kata Pet.

Bagi yang harus ekstra hati-hati dalam menempatkan dana investasi serta tidak keberatan mengatur asuransi dan investasi secara terpisah, strategi ini ialah pilihan yang bagus.

Strategi unit link

Unit link sebenarnya merupakan gabungan reksa dana dan asuransi jiwa. Mengenai pilihan ini, Pet merekomendasikan para orang tua untuk memanfaatkan fungsi top up dalam asuransi unit link. Dengan cara ini, Anda akan mampu mencapai target investasi dan menggunakan premi sebagai asuransi yang melindungi dari resiko.

Pet menambahkan jika ia akan merekomendasikan strategi ini bagi mereka yang memilih metode pengaturan “di bawah satu atap” untuk mengelola investasi dan asuransi.

Strategi emas 

Emas telah menjadi instrumen investasi andalan bagi banyak orangIndonesia. Hal itu tak lepas dari kenaikan fenomenal harga emas sejak tahun 2000 hingga sekitar 2010/2011. Namun, terhitung sejak 2012 harga emas kembali berada di posisi stagnan.

Oleh karena itu, ada keuntungan dan kelemahan dalam mengandalkan emas sebagai dana pendidikan anak Anda kelak.

“Emas tidak pernah membuat seseorang bangkrut, diterima di seluruh dunia, dan mudah cair. Anda bisa membeli dalam jumlah kecil, misalnya 10 gram,” jelas Pet.

“Akan tetapi, belakangan ini emas cenderung memiliki nilai imbal hasil yang lebih rendah dibanding kenaikan biaya pendidikan. Selain itu, ada resiko jika Anda memutuskan menyimpan emas di rumah, misalnya terjadi pencurian dan sebagainya,” urai Pet.

Lebih lanjut, Pet menjelaskan, berinvestasi dengan emas kerap menjadi solusi tepat untuk investasi jangka panjang. “Untuk jangka waktu sepuluh tahun atau lebih, dan itu tergantung pada tujuan investor, perhitungan waktu, dan profil resiko.”

Menurut Jocelyn, apapun pilihan yang diambil, penting untuk meninjau ulang performa investasi, dana, atau polis asuransi Anda setidaknya setahun sekali untuk memastikan Anda tetap berada di jalur yang sesuai dengan target keuangan Anda.  

“Pertimbangkan juga untuk mencairkan uang yang diperlukan satu hingga dua tahun sebelum anak Anda memasuki tahun pertama studinya. Dengan begini, Anda tidak harus terpaksa menjual atau mencairkan investasi Anda ketika kondisi pasar sedang lesu,” ia mengingatkan. 

Bacaan lain: Apakah Anda Siap Terjun ke Dunia Investasi?

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×