Pelajaran Hidup dari Orang Kaya yang Jatuh Bangkrut – Bagian 2


Di bagian kedua dari seri “Pelajaran Hidup dari Orang Kaya yang Jatuh Bangkrut” ini, dua orang berbagi pengalaman mereka sebagai sosok yang pernah memiliki segalanya kemudian bangkrut.

Tidak Bisa Menikmati Hari Tua 

Harry –bukan nama sebenarnya, seorang ayah tiga anak yang sudah dikaruniai tiga cucu, saat ini berusia 60 tahun dan masih aktif bekerja.

Belasan tahun lalu ia menjabat sebagai petinggi salah satu bank terbesar di Singapura. Selain mendapatkan gaji besar, ia juga menikmati segala fasilitas dan tunjangan hidup yang berkelimpahan. Ia memperoleh mobil mewah, subsidi rumah, listrik, telepon, asuransi kesehatan keluarga, hingga bonus tahunan dan opsi saham.

Hidupnya saat itu benar-benar di atas angin.

Kemudian, di tahun 2000, Harry diminta untuk mengundurkan diri secara tiba-tiba karena masalah organisasi yang pelik. Ia tak hanya kehilangan penghasilan, tapi juga segala tunjangannya.

Harry mengungkapkan hal yang membuat keluarganya dapat bertahan melewati krisis tersebut:

  • Dividen saham yang bisa dicairkan setiap akhir tahun
  • Penghasilan istri Harry sebagai pegawai negeri tetap
  • Pendapatan dari sewa properti yang dikelola oleh sang istri

Meski begitu, semua itu masih tidak cukup untuk menopang keluarganya serta gaya hidup yang biasa mereka jalani. Ia harus mencari pekerjaan lain untuk bisa mempertahankan standar hidup mereka saat itu.

Satu hal yang paling disesali Harry adalah keteledorannya dalam mempersiapkan dana pensiun. Saat ia berada di puncak kariernya –dan bahkan setelah kehilangan pekerjaan, ia masih mementingkan gaya hidup mewah dan memanjakan anak-anaknya. Ia tidak menyisihkan cukup uang untuk masa tuanya.

Kini, di usia 60, Harry masih harus bekerja untuk bisa mempertahankan gaya hidupnya.

"Andai saya disiplin menabung untuk dana pensiun, mungkin saya tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup lagi, tapi untuk aktualisasi diri," sesalnya.

Menaruh “Semua Telur dalam Satu Keranjang”

Pengalaman Tony, 43, bisa dibilang cukup menarik. Sebagai seorang pengusaha yang sukses, ia berpikir bahwa usahanya sudah mapan. Dengan keuntungan bisnis yang mencapai belasan miliar, Tony merasa tidak perlu lagi memiliki investasi lain. Pikirnya, toh bisnisnya sendiri adalah investasi.

Semua uangnya terpakai untuk menjalankan usaha dan ia sendiri menyimpan dana cair sangat sedikit. Ia lebih senang mengalihkan ‘investasi’ pada koleksi barang mewah sebagai imbalan atas kerja kerasnya.

Tak disangka, bisnis yang dibangunnya selama satu dekade itu bangkrut akibat krisis moneter global tahun 2008. Ia juga terpaksa berutang besar karena bisnisnya.

Tony akhirnya menggadaikan dan menjual aset miliknya untuk membayar semua utang. 

"Rumah saya gadaikan, apartemen saya jual, mobil dari empat jadi tinggal satu, koleksi barang mewah seperti jam dan lukisan saya jual lagi ke second market. Bahkan, saya sampai bongkar gudang untuk cari barang-barang elektronik yang sudah tidak saya pakai, karena dulu saya senang sekali gonta-ganti gadget,” kenangnya.

“Memang pada akhirnya utang-utang saya lunas, tapi saya jadi hampir tidak punya apa-apa. Sampai sekarang pun saya masih harus melunasi cicilan pinjaman ke bank,” kata Tony.

“Pelajaran besar bagi saya untuk tetap menyisihkan dana darurat sebesar resiko bisnis yang dijalankan, dan jangan menaruh semua telur ke dalam keranjang itu sudah benar-benar saya rasakan sendiri," kata ayah satu anak ini.  

Pengalaman telah mengajarkan mereka satu hal berharga: tidak penting berapa banyak yang Anda miliki, melainkan sebaik apa Anda mengelola milik Anda tersebut. 

Baca terus: Rahasia Tua Kaya Raya untuk Umur 20an

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×