Karir dan Keuangan Seorang Freelancer


Christina, 30, seorang ibu satu anak yang sudah lama bekerja sebagai freelancer untuk sebuah rumah produksi di Jakarta. Ia bisa memperoleh penghasilan bulanan di atas Rp 5 juta dari kerja sampingan sebagai penerjemah dokumen, surat-surat, hingga naskah film. Penghasilan ini membuatnya bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, meski sang suami sanggup menopang kebutuhannya semenjak mereka menikah 1,5 tahun lalu.

Ingin tahu bagaimana kondisi keuangannya?

bagaimana sih kondisi keuangan freelancer?Pekerjaan sampingan bisa mengisi banyak waktu saya,” ungkapnya kepada LiveOlive.

Dalam sebulan, Christina biasa menyisihkan gaji sebesar Rp 2 juta-Rp 3 juta ke dalam tabungannya. Sementara itu, ia masih membayar premi asuransi sebesar Rp 1,5 juta yang dipertahankan untuk dirinya sendiri. Sisanya ia gunakan untuk berbelanja atau sekedar makan di luar untuk bertemu dengan teman-teman.

“Pekerjaan (penerjemah) ini kalau datang bisa sekaligus banyak, lumayan untuk isi waktu dan ada pegangan sendiri,” katanya. Ia tidak perlu panik jika tidak memperoleh pekerjaan baru dalam waktu lama atau proyek terjemahan kecil.

“Untungnya, pengeluaran kebutuhan rumah sehari-hari dan ada kebutuhan pribadi yang sudah ditanggung oleh suami,” tuturnya.

Meski demikian, Christina punya target keuangan untuk berinvestasi secara pribadi tanpa mengandalkan uang suami.

Komentar LiveOlive:

Pekerjaan sampingan Christina pada dasarnya untuk menambah penghasilan suaminya dan mengisi waktu luang di rumah. Jeleknya, ia bisa mulai memperlakukan pekerjaan ini sebagai hobi dan tak lagi menganggapnya serius.

Sebelum disadari, ia bisa meremehkan pekerjaan yang ia lakukan, hanya menerima proyek apa pun yang menghampiri dan akhirnya menjadi frustrasi, lalu mengorbankan sumber penghasilan yang cukup menjanjikan, baginya dan keluarga.

Oleh karena itu, hal pertama yang LiveOlive sarankan bagi Christina adalah mencatat berapa waktu yang ia gunakan untuk menyelesaikan setiap jenis proyek. Ini akan membantunya dalam memprioritaskan pekerjaan tertentu dan menyeimbangkan antara pekerjaan dan kegiatan mengurus keluarga, sehingga tidak kewalahan. Ia bisa memusatkan perhatian pada proyek-proyek yang lebih efisien, termasuk yang memberinya lebih banyak penghasilan dengan waktu pengerjaan yang sama.

Selanjutnya, mari kita bahas tentang pengaturan uang pribadinya.

Menabung memang baik, tapi lebih baik lagi kalau Anda mengerti tabungan tersebut untuk apa. Berdasarkan keadaan dan tingkat usianya, ada beberapa target yang bisa dipertimbangkan oleh Christina:

Dari beragam tujuan tersebut, jenis investasi yang Christina pilih juga bisa berbeda. Untuk tujuan dengan jangka waktu panjang lebih dari sepuluh tahun, misalnya dana pendidikan dan pensiun, ia bisa mempertimbangkan saham. Untuk tujuan dengan jangka waktu lebih pendek, misalnya untuk liburan keluarga, lebih masuk akal memasukkan uang tersebut ke  deposito – karena resikonya minim.

Membeli saham bisa dilakukan langsung atau dengan membeli produk unit link serta  reksa dana. Christina sepertinya sudah memiliki asuransi yang cukup, maka ia bisa mempertimbangkan reksa dana atau pembelian saham blue chip langsung di bursa saham – ingat ya, hanya blue chip alias saham-saham unggulan.

[Baca: 5 Langkah untuk Membuka Rekening Saham Online]

Dari Rp 5 juta, ia bisa mengalokasikan sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta setiap bulan untuk  investasi. Christina perlu menginvestasikan uangnya secara teratur dan bukan hanya setiap kali ia merasa ingin menyisihkan uang. Dengan begitu, ia tidak perlu memikirkan kapan waktu yang tepat untuk membeli.

Baca juga: Mengapa Wanita Merupakan Investor yang Handal

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×