5 Alasan Orang Tidak Mengikuti Anggaran


Selain diet, membuat anggaran adalah salah satu hal yang sulit dipertahankan.

Memiliki anggaran penting untuk membantu pengaturan keuangan pribadi, sehingga kita bisa menjalani gaya hidup yang kita inginkan dan mencapai target kita, entah itu berlibur ke suatu pulau eksotis atau mengirim anak ke sekolah terbaik.

Sayangnya, seringkali kegagalan menepati anggaran disebabkan oleh hal-hal sepele. Berikut ini beberapa hal yang perlu diwaspadai:

1. Anggaran yang tidak masuk akal

" Gua pernah coba buat anggaran Rp15.000 (US$1.13) untuk sekali makan siang, biar hemat. Tapi susah banget stick to it. Lama-lama bocor juga makan siang kemahalan, dan akhirnya malah merusak anggaran yang lain. Paling nggak Rp25.000 (US$1.90) dan gua revisi anggaran berdasarkan harga itu. Susah kalau nggak sesuai kenyataan,” cerita Wawan, 33, seorang karyawan bank.

Membuat anggaran yang tidak realistis akan membuat kita tidak bisa mematuhinya. Coba susun anggaran berdasarkan kenyataan yang Anda hadapi sehari-hari. Lihat beberapa struk belanja Anda dari minggu-minggu sebelumnya, lalu buat target untuk perlahan-lahan mengurangi belanja.

Contohnya, mencoba meniadakan kunjungan ke kafe favorit akan terasa berat untuk Anda, karena itu coba kurangi saja dari kunjungan tiap hari menjadi 3 kali seminggu. Setelah beberapa minggu, kurangi lagi menjadi dua kali seminggu, dan seterusnya.

[Lihat video: Tips Mengelola Gaji Bagi Karyawan]

Langkah-langkah kecil yang diambil secara konsisten bisa membuahkan hasil yang besar.

* information is correct at the time of publishing

** Bank Indonesia exchange rate: US$1 = Rp13,364

2. Tidak memiliki dana darurat

Selalu ada sesuatu yang tidak terduga – anggota keluarga yang sakit, atap rumah bocor, perbaikan mobil, dan lain sebagainya. Bahkan mereka yang begitu disiplin terhadap anggaran juga bisa terpukul oleh pengeluaran-pengeluaran ini.

Dana darurat akan melindungi kita dari situasi tak terduga, sehingga anggaran kita tidak menjadi berantakan.

"Terus terang aku nggak pernah simpan dana darurat, jadi kalau ada keperluan mendadak paling diambil dari alokasi makan pas weekend. Kalau cukup besar butuhnya, ya diambilkan dari anggaran tabungan," ungkap Octo, 30, seorang staf marketing di perusahaan swasta.

3. Tidak punya tujuan

Sebuah target atau tujuan bisa memotivasi seseorang. Memiliki target untuk menurunkan berat badan sebanyak tiga kilo sebelum acara reuni SMA akan lebih efektif dibandingkan hanya memiliki keinginan untuk mengurangi berat badan.

"Dulu pernah bikin budget cuma karena nggak pengen beli apa-apa dan nggak pengen pergi kemana-mana, trus buat apa punya budget?" kata Steffi, 28, pemilik sebuah toko pakaian.

Bagi beberapa orang, traveling bisa jadi sebuah target; bagi yang lain, mungkin membeli rumah atau mengirim anak-anak ke sekolah. Kenali dulu target Anda, karena ini yang akan menuntun Anda untuk membuat pilihan-pilihan, misalnya makan di luar setiap hari vs. jalan-jalan ke Eropa tahun depan.

4. Dipaksa untuk menepati

Sesuatu yang menyenangkan bisa menyiksa jika dilakukan dengan terpaksa. Ini terasa lebih-lebih saat Anda membuat anggaran keuangan. Jadi, meski anggaran tersebut direkomendasikan oleh seseorang yang sangat ahli, misalnya seorang perencana keuangan, pastikan rencana tersebut sesuai dengan kondisi keuangan pribadi dan Anda memahaminya.

"Pernah ada anggaran yang aku sendiri tidak terlalu ngerti buat apa dan nggak bilang setuju sih waktu dikasih. Tapi karena sudah paket, aku iyain aja. Saat balik ke financial planner-nya, anggaran itu tadi nggak tercapai," cerita Dina, 36, seorang ibu dua anak.

5. Tidak disesuaikan dengan kebutuhan saat ini

Kondisi keuangan kita senantiasa berkembang dan berubah. Misalnya saja ketika seseorang dipromosikan dan pindah ke kota lain, terjadi kenaikan biaya transportasi; hal-hal tersebut membutuhkan peninjauan ulang dan penyesuaian anggaran. Ini bukan berarti anggaran Anda gagal, kok! Anda hanya perlu menyesuaikannya dengan kondisi sekarang.

“Begitu menikah, saya dan suami menggabungkan anggaran kami dan membuat alokasi untuk biaya membesarkan anak, rumah, pensiun, dan sebagainya. Saya sendiri hanya berhak memakai uang belanja yang sudah dianggarkan setiap bulan,” kata Angelyn, 30, seorang wanita karier yang menikah dua tahun lalu. Ketika masih lajang, ia hanya membuat anggaran sederhana untuk tabungan dan jajan, namun perencanaan tersebut sudah tidak relevan lagi saat ia berkeluarga.

Baca juga: Bedah Anggaran 3 Orang Tua Tunggal

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×