Cara Memenangkan Lowongan Kerja (Loker) yang Anda Inginkan


Apa yang dipikirkan oleh Jack Ma saat memutuskan untuk mengambil jurusan Sastra Inggris di Hangzhou Teacher’s Institute mungkin terlintas di pikiran Anda sewaktu memutuskan untuk mengambil jurusan S1 setelah lulus SMA: meniti karir sesuai bidang yang dipelajari.

Akan tetapi, setelah enam tahun menekuni pekerjaan sebagai guru, Jack Ma memutuskan berhenti dan mendirikan perusahaan e-commerce Alibaba pada tahun 1999. Saat ini, ia adalah pria terkaya di Cina dan Alibaba sudah menjadi raksasa e-commerce terbesar ketiga dunia.

Kenyataannya, tidak tertutup kemungkinan bagi seseorang untuk mengembangkan karir di luar latar belakang pendidikannya. Banyak perusahaan bersedia mempekerjakan karyawan yang tidak sepenuhnya memenuhi kualifikasi standar lowongan kerja (loker)

LiveOlive berbincang dengan lima orang yang kini menjalani profesi yang benar-benar bertolak belakang dengan pendidikan mereka. Tips-tips berikut ini berasal dari mereka:

1. Riset Pekerjaan yang Banyak Dibutuhkan

"Perusahaan biasanya siap menerima karyawan-karyawan dari segala jurusan untuk pekerjaan yang non-profesi (selain akuntan, pengacara atau dokter)," kata Iam, seorang staf Human Resources di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Anda bisa terus mengasah bakat dan minat Anda, sambil mencari informasi tentang jenis pekerjaan atau jabatan yang sedang banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan. Jenis-jenis lowongan kerja (loker) yang tersedia sekarang bisa jadi berbeda atau memiliki syarat kualifikasi yang tidak sama dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

[Jawab kuis ini: Sudah Tepatkah Pilihan Karir Anda?]

Lihat saja Himanda, 32, alumni Universitas Trisakti jurusan Ekonomi Manajemen tahun 2002 yang berhasil memperoleh pekerjaan yang sudah lama ia cita-citakan, yakni pilot.

Setelah beberapa tahun bekerja di sebuah perusahaan media lokal, ia kembali mengejar mimpinya sebagai pilot begitu tahu bahwa hambatan yang ia temui saat ingin bergabung dengan sekolah penerbangan selepas SMA dahulu sudah tidak ada.

“Dulu saya tidak bisa masuk sekolah penerbangan, karena dari jurusan IPS waktu SMA. Sekarang sudah tidak ada batasan itu lagi,” jelas pria yang kini berprofesi sebagai pilot di perusahaan maskapai nasional, Garuda Indonesia.

Anton, 31, seorang sarjana sains dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengaku bahwa ia tidak bisa mengembangkan riset di Indonesia untuk jurusan astronomi yang telah diambilnya, karena peralatan yang tersedia belum memadai. Oleh karena itu, ia langsung melakukan riset mengenai pekerjaan apa saja yang mungkin dilakukannya selain meneruskan riset mengenai astronomi.

“Begitu mau 'banting setir', aku baca buku-buku soal karir apa saja yang memungkinkan untuk lulusan sains,” kata Anton. Dari sana ia menemukan beberapa profesi untuk sarjana sains, diantaranya sebagai technical writer, market researcher, programmer, data scientist, hingga wartawan.

“Aku merasa cocok dengan (profesi) wartawan dan lebih khusus lagi, wartawan sains,” tukas karyawan Tempo tersebut.

2. Kembangkan Koneksi di Bidang yang Anda Minati

Bagi Himanda, jalinan komunikasi dengan beberapa temannya yang juga ingin masuk sekolah pilot membuatnya terus mendapatkan informasi seputar dunia penerbangan, termasuk saat ada lowongan sekolah penerbangan dari Lion Air.

“Saya masih keep in touch dengan dunia penerbangan meski bekerja di bidang lain,” tukasnya.

Mahsyur, 27, memperoleh pekerjaan sebagai researcher yang jauh berbeda dengan jurusan astronomi yang diambilnya saat kuliah. Setelah memperoleh gelar Master dari Kyoto University, ia langsung melamar pekerjaan sebagai Pengajar Muda di program “Indonesia Mengajar”. Ia tetap mempertahankan jaringan pertemanan dengan banyak orang yang ia temui selama mengajar hingga hari ini. Hasilnya, ia pun menemukan peluang untuk bekerja di lembaga riset The Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL).

“Saya dapat lowongan kerja tersebut dari seorang teman,” kenang Mahsyur.

Jaringan yang luas juga bisa mempermudah Anda untuk memperoleh referensi. Hal ini tentunya akan memberi nilai tambah saat proses wawancara kerja.

3. Tunjukkan Kualitas Pribadi Anda

Segala kerja keras yang sudah Anda lakukan demi memperoleh IPK tinggi saat kuliah bukanlah sesuatu yang sia-sia, meski akhirnya Anda memutuskan bekerja di bidang lain.

“IPK menunjukkan bagaimana (calon karyawan) mengelola dirinya, kapan ia belajar, bikin tugas dan keseriusannya yang akan tercermin di kantor nanti,” jelas Iam.

Yang lebih penting, ilmu yang Anda dapat saat kuliah bisa mendukung pengembangan pribadi Anda. Seperti yang dialami Hanindyo, 33, seorang lulusan Fakultas Hubungan Internasional yang kini bekerja sebagai pialang saham (broker). Ia mengaku bahwa latar belakang pendidikannya memberi pemahaman lebih bagi pekerjaannya sekarang.

“Hubungan Internasional itu suatu ilmu multi-disipliner, bidang cakupannya sangat luas. Saya jadi lebih paham isu-isu politik, domestik maupun internasional, dan dapat memperkirakan sentimen pasar, menjawab, serta beraksi lebih cepat saat ditanya investor,” jelas Hanindyo.

Jika pekerjaan yang sedang Anda incar adalah sesuatu yang benar-benar baru untuk Anda, tunjukkan antusiasme untuk terus belajar – karena Anda nantinya perlu beradaptasi dalam banyak hal.

Inilah mengapa tes psikologi ikut menentukan di proses penyaringan tenaga kerja. Melalui tes EQ, sang pelamar dapat memperkirakan tingkat kemampuannya dalam mengelola emosi, misalnya saat menghadapi kendala di dalam pekerjaan kelak. Banyak perusahaan startup yang tengah naik daun, misalnya Uber, juga mensyaratkan calon karyawannya lulus tes IQ dengan nilai tertentu.

“Dari IQ, kita bisa melihat daya tangkap seseorang, apakah ia memang dapat bekerja bagus hampir di segala hal,” tutur Iam. Menurutnya, daya tangkap yang bagus akan mempercepat proses belajar karyawan tersebut.

Pengalaman berorganisasi selama kuliah akan menjadi nilai tambah lain dalam wawancara kerja. Menurut Iam, hal tersebut bisa dilihat sebagai refleksi kehidupan sosial, koneksi dan adanya keinginan untuk terus aktif. Kualitas ini tentunya bisa berguna di dunia kerja, misalnya untuk menjaring klien dan memperluas jangkauan bisnis.

  1 of 2  

Pilih klien yang ingin dikirimi artikel:

Select all
Nama Email

Saat ini Anda belum memiliki klien

×
×
×
×